PROFESIONALISME GURU MATEMATIKA DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DI SMP

Isnaeni Khasanah dan Abdul Aziz Saefudin
Universitas PGRI Yogyakarta
E-mail: [email protected], [email protected]

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

ABSTRAK
Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia salah satunya wahana untuk melaksanakan pendidikan adalah lingkungan sekolah/pendidik formal. Oleh karena itu dibutuhkan seorang guru/ pendidik yang profesional. Guru yang professional adalah orang yang memiliki kewenangan, tanggung jawab untuk membimbing siswa di sekolah atau di luar sekolah dengan keahlian khusus dalam bidang keguruan. Guru profesional akan dapat menerapkan berbagai model pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan, sehingga meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat memperbaiki pendidikan di Indonesia. Dengan adanya guru professional agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat membantu memahami pembelaran,
Kata kunci: hasil belajar, matematika, profesionalisme guru.

PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan hal yang penting dalam kehidupan manusia, ini berarti bahwa pendidikan merupakan suatu kebutuhan bagi seluruh masyarakat di semua belahan dunia. Salah satu wahana untuk melaksanakan pendidikan adalah lingkungan sekolah atau disebut pendidikan formal. Dalam UU RI No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional :
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara.

Guru sering disebut sebagai pendidik. Pendidik memiliki dua arti, yaitu arti dalam sempit dan arti dalam luas. Pendidik dalam arti luas adalah semua orang yang berkewajiban membina anak-anak. Pendidik dalam arti sempit adalah orang-orang yang disiapkan untuk menjadi guru dan dosen. (Pidarta,2007:176). Guru merupakan sebuah profesi dan tidak semua pekerja dikatakan profesi. Profesi adalah bidang pekerjaab yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu.
Kurniasih dan Sani (2016: 22) menyatakan guru profesional adalah semua orang yang mempunyai kewenangan serta tanggung jawab tentang pendidikan anak didik baik serta individual atau klasikal, di sekolah atau di luar sekolah.
Guru diharapkan dapat meningkatkan dan mengembangkan kompetensi pedagogik dan kompetensi profesionalnya sehingga akan berdampak pada peningkatan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran dan berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Menurut Jaeng (2007: 8) bahwa hasil belajar merupakan suatu ukuran ketercapaian tujuan belajar yang dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Hasil belajar ini dapat dijadikan sebagai tolak ukur keberhasilan pembelajaran dan acuan guru untuk mengetahui metode yang akan digunakan.

PEMBAHASAN
A. Profesionalisme Guru
Guru yang memiliki kemampuan profesional sangat dibutuhkan disekolah, khususnya di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Bafadal (2008: 46) menyatakan bahwa profesionalisme adalah konsidi, arah, nilai, tujuan dan kualitas suatu keahlian dan kewenagan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Ujung tombak dalam dunia pendidikan adalag guru, itu dapat menandakan arti penting dari profesi guru sebagai tenaga pendidik dan tenaga pengajar.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen Pasal 1 ayat (1) guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, dan mengevaluasikan peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Guru merupakan sosok yang keberadaannya tidak dapat digantikan oleh media atau fasilitas pembelajaran apapun. Pembelajarannya akan terlaksana dengan baik jika salah satunya yang perlu dibenahi adalah perbaikan kualitas tenaga kerjanya. Dalam pembelajaran guru berperan sebagai fasilitator. Membimbing siswa yang mengalami kesulitan, bimbingan yang diberikan guru hanya sebagai petunjuk agar siswa berkerja lebih terarah. Guru paling tidak dapat mengorganisasi pembelajaran dengan jalan menggunakan teori-teori belajar serta mendesain pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar.
Moh Uzer Usman (2006) mendefinisikan guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Kompetensi seorang guru sebagai tenaga profesional kependidikan ditandai dengan serangkai diagnose, radiagnosa, dan penyesuaian yang terus menerus (Sardiman, 2003)
Alat untuk mengukur tingkat keprofesionalisme guru adalah dengan melihat kompetensi guru dalam beberapa hal tertentu. Terdapat sepuluh kompetensi profesional guru, yang merupakan profil atau aspek kemampuan dasar seorang guru yang dikemukakan oleh Sadirman (2003), yaitu:
1. Kemampuan menguasai bahan
2. Kemampuan mengelola program belajar mengajar
3. Kemampuan mengelola kelas
4. Kemampuan menggunakan media
5. Kemampuan menguasai landasan kependidikan
6. Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar
7. Kemampuan menilai prestasi siswa untuk kepentingan pengajar
8. Kemampuan mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan di sekolah
9. Kemampuan mengenal dan menyelenggarakan adminustrasi sekolah
10. Kemampuan memahami prinsi-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil penelitian pendidikan guna keperluan pengajaran (dalam “Kurikulum”, 2002).
Kompetensi guru ini tentunya sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Mengajar juga dipandang sebagai suatu aktivitas interpersonal karena guru berinteraksi dengan satu atau lebih siswa. interaksi ini bersifat bidirection, yaitu guru mempengaruhi siswa, begitu juga siswa dapat mempengaruhi guru.
Guru yang profesional harus mempunyai ciri-ciri profesional guru. Hamalik dalam Kunandar, (2007: 61-62) menyatakan bahwa ada lima ciri-ciri guru yang dikatakan professional yaitu:
1. Guru yang waspada secara profesional harus terus berusaha untuk menjadikan masyarakat sekolah menjadi tempat yang paling baik bagi anak-anak muda.
2. Guru yakin akan nilai dan manfaat pekerjaannya dan guru terus berusaha memperbaiki dan meningkatkan mutu pekerjaannya.
3. Guru tidak mudah tersinggung oleh larangan-larangan dalam hubungannya dengan kebebasan pribadi yang dikemukakan oleh beberapa orang untuk menggambarkan profesi keguruan. Guru secara psikologis lebih matang, sehingga rangsangan-rangsangan terhadap dirinya dapat ditaksir.
4. Guru memiliki seni dalam hubungan-hubungan manusiawi yang diperolehnya dari pengamatannya tentang bekerjanya psikologi, biologi, dan antropologi kultural di dalam kelas. Mereka berkeingi-nan untuk terus tumbuh.
5. Guru sadar bahwa di bawah pengaruhnya, sumber-sumber manusia dapat berubah nasibnya.
Guru profesional harus bertanggung jawab tentang pendidikan baik di sekolah maupun diluar sekolah serta memiliki pengetahuan, ketrampilan, wawasan dan perilaku baik. Guru yang profesional akan dapat mengimplementasikan atau menerapkan pembelajaran yang bervariasi dengan menggunakan berbagai model pembelajaran yang menyenangkan dan menggunakan media pembelajaran, sehingga akan dapat memberikan semangat belajar pada diri peserta didik.

B. Matematika
Kata matematika berasal dari bahasa latin, manthanein atau mathema yang berarti “belajar atau hal yang dipelajari”. Sedangkan dalam bahasa Belanda, matematika disebut wiskunde atau ilmu pasti, yang kesemuanya berkaitan dengan penalaran (Depdiknas, 2013: 184). Menurut Suwarsono (Jaeng, 2004:3) bahwa matematika masih saja dianggap sebagai suatu bidang studi yang cukup sulit oleh siswa, dan masih banyak siswa yang memperoleh hasil belajar yang kurang memuaskan. Hal ini disebabkan karena masih banyak siswa yang belum menguasai konsep-konsep dasar dalam matematika itu sendiri. Maka dari itu, pemahaman siswa terhadap materi matematika harus ditingkatkan lagi dengan menambah wawasan dan arahan serta pendekatan yang tepat pada siswa.
Ruseffendi dalam Heruman, (2014: 1) menyatakan bahwa matematika adalah bahasa simbol; ilmu deduktif yang tidak menerima pembuktian secara induktif; ilmu tentang pola keteraturan, dan struktur yang terorganisasi, mulai dari unsur yang tidak didefinisikan, ke unsur yang didefinisikan, ke aksioma atau postulat, dan akhirnya ke dalil. Soedjadi dalam Heruman, (2014: 1) menyatakan bahwa hakikat matematika yaitu memiliki objek tujuan abstrak, bertumpu pada kesepakatan, dan pola piker yang deduktif.

C. Meningkatkan Hasil Belajar
Sadirman (2014: 20) menyatakan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru dan lain sebagainya. Siregar dan Nara dalam Dirman & Juarsih, (2014: 4) menegaskan bahwa salah satu pertanda seseorang telah belajar sesuatu adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya. Perubahan tingkah laku tersebut menyangkut perubahan yang bersifat pengetahuan (kognitif), dan keterampilan (psikomotor), maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).
Weil dalam Rusman, (2013: 100) menyatakan prinsip belajar ada tiga yaitu: Pertama, proses pembelajaran adalah membentuk kreasi lingkungan yang dapat membentuk atau mengubah struktur kognitif siswa. Kedua, berhubungan dengan tipe-tipe pengetahuan yang harus dipelajari. Pengetahuan tersebut adalah pengetahuan fisis, sosial, dan logika. Ketiga, dalam proses pembelajaran harus melibatkan peran lingkungan sosial.
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Purwanto (2011: 38) menyatakan bahwa hasil belajar merupakan proses dalam diri individu yang berinteraksi dengan lingkungan untuk mendapatkan perubahan dalam perilakunya. Karwono (2012: 13) menyatakan hasil belajar adalah perubahan seseorang dikatakan sudah belajar apabila perilakunya menunjukkan perubahan, dari awalnya tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak mampu menjadi mampu, dari tidak terampil menjadi terampil.
Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki seseorang setelah melakukan suatu proses pembelajaran dan menerima pengalaman belajarnya berupa pengetahuan, keterampilan, emosional, sikap, dan tingkah laku. Indikator hasil belajar tidak dilihat secara terpisah, mencakup tiga ranah yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor.
D. Karakteristik siswa SMP
Dick and Carey (1996) menyatakan bahwa seorang guru hendaklah mampu mengenal dan mengetahui karakteristik siswa. Sebab dengan pemahaman yang baik terhadap karakteristik siswa, guru akan dapat menyesuaikan metode pembelajaran yang digunakannya yang tentunya sangat mempengaruhi keberhasilan proses belajar siswa. Karakteristik dan kemampuan awal siswa sangat mempengaruhi cara belajarnya dan juga mempengaruhi perhatiannya dalam pembelajaran. Informasi tentang hal tersebut diperlukan oleh pengembang instruksional agar ia dapat mengembangkan sistem instruksional yang sesuai dengan karakteristik siswa tersebut (Suparman,1997; 113). Oleh sebab itu dalam proses pembelajaran guru hendaknya mengetahui hal tersebut agar dapat menerapkan cara penyampaian pembelajaran yang menarik bagi siswa sehingga selanjutnya diharapkan akan meningkatkan hasil pembelajaran.
KESIMPULAN
Berdasasarkan pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa guru yang professional adalah orang yang memiliki kewenangan, tanggung jawab untuk membimbing siswa di sekolah atau di luar sekolah dengan keahlian khusus dalam bidang keguruan. Guru paling tidak dapat mengorganisasi pembelajaran dengan jalan menggunakan teori-teori belajar serta mendesain pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar. Guru juga harus memiliki kompetensi untuk menjadi guru profesional. Guru profesional akan dapat menerapkan berbagai model pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan, sehingga meningkatkan hasil belajar siswa dan dapat memperbaiki pendidikan di Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

Bafadal, Ibrahim. 2009. Peningkatan Profesional Guru Sekolah Dasar. PT Bumi Aksara. Jakarta.
Depdiknas. 2003. Sistem Pendidikan Nasional. Dikmenum. Depdiknas. Jakarta.
Halim, A. (2012, Desember). PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN GAYA DAB BELAJAR TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA AMP 2 SECANGGUNG KABUPATEN LANGKAT. Retrieved April 24, 2018, from digilib.unimed.ac.id: http://digilib.unimed.ac.id/683/1/Pengaruh%20strategi%20pembelajaran%20dan%20gaya%20belajar%20terhadap%20hasil%20belajar%20fisika%20siswa%20SMP%20N%202%20Secanggang%20Kabupaten%20Langkat.pdf
Heruman. 2014. Model Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Jaeng, M.2007. Belajar dan Pembelajaran Matematika.Palu: FKIPUNTAD
Karwono. 2012. Belajar dan Pembelajaran serta Pemanfaatan Sumber Belajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Kunandar. 2007. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Kurniasih, Imas & Berlin Sani. 2016. Ragam Pengembangan Model Pembelajaran untuk Peningkatan Profesionalitas Guru. Kata Pena. Yogyakarta.
Pidarta, Made. 2007, Landasan kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Purwanto. 2014. Evaluasi Hasil Belajar. Pustaka Belajar. Yogyakarta.
Rusman. 2013. Model-model Pembelajaran: Mengembangkan Profesional Guru. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Sadirman, A.M. 2014. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen.
Usman M. U. 2006. Menjadi Guru Profesional, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. Ke-20, h. 14-15.

x

Hi!
I'm Piter!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out