Dari gambar di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah kemampuan atau kekuasaan untuk mengatur suatu ‘usaha’, serta bertanggung-jawab atas keberhasilan dan kegagalannya. Manajemen bila dikaitkan dengan mutu adalah manajemen yang dipusatkan pada kualitas, difokuskan pada pelanggan, berdasarkan pada fakta, didukung oleh tim, dengan proses yang dipimpin oleh manajer senior untuk mencapai suatu strategi organisasi yang penting melalui peningkatan proses yang terus menerus yang bergantung pada pengalaman keahlian dan komitmen/tanggung-jawab semua anggota dari suatu organisasi untuk meningkatkan proses dalam melayani pelanggan.
Selanjutnya, pengertian mutu tidak terlepas dari konsep-konsep dasar mutu yang tercakup dalam “guru mutu” (quality gurus). Kunci definisi mutu adalah berorientasi kepada pelanggan. Hal ini diutarakan oleh guru mutu E.Deming, yang mendefinisikan mutu sebagai “memenuhi harapan pelanggan”. Deming, Sailis (1993) merupakan tokoh yang mempelopori manajemen mutu.
Deming juga menyatakan bahwa upaya memenuhi harapan pelanggan tersebut tidak berarti dicapai dengan cara yang sama melainkan bervariasi dan tetap terkontrol. Di sisi lain, menurut Edward Sallis mutu dapat digunakan sebagai konsep yang bersifat absolut dan sekalius relatif. Sebagai konsep yang bersifat absolut, mutu ditujukan kepada produk barang atau layanan yang berstandar tinggi atau “elit” dan tidak dapat diungguli karena sempurna, menjadi atribut bagi pemakai, serta memberi nilai “beda” terkait dengan status orang-orang yang dapat meiliki atau menikmatinya. Sedangkan mutu juga sebagai suatu konsep yang relatif, muncul dari produk barang atau layanan sendiri. Berikut adalah visualisasi siklus mutu yang digagas oleh Deming:

The Deming Cycle proceeds as follows: (1) Conduct consumer research and use it in planning the product (plan); (2) Produce the product (do); (3) Check the product to make sure it was produced in accordance with the paln (check); (4) Market the product (act); (5) Analyze how the product is received in the marketplace in terms of quality, cost, and other criteria (analyze).

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dari siklus Deming di atas terlihat bahwa tahapan utuk memproduksi suatu produk/jasa dimulai dari tahapan perencanaan sampai dengan tahapan menganalisa hasil dari produk/jasa tersebut (plan, check, act, analyze), siklus ini terus berjalan dan saling berpengaruh antara satu-sama lainnya. Sehingga dapat difahami bahwasannya Siklus PDAC dimulai dari perencananaan perbaikan proses (plan), mengerjakan perbaikan tersebut (do), memeriksa proses perbaikan dan hasil perbaikan tersebut (check), mengerjakan modifikasi dari perbaikan seandainya ada (act).
Mutu atau kualitas sulit untuk didefinisikan, akan tetapi dapat dan mudah untuk dirasakan, misalnya seorang konsumen yang mengalami kesulitan dalam mendefinisikan mutu suatu produk, tetapi ia akan tahu saat atau setelah menggunakannya. Pengertian mutu juga sangat tergantung dari peran orang yang mendefinisikannya, sehingga terkadang memiliki penafsiran berbeda untuk menggambarkan kualitas produk atau pelayanan tertentu meskipun saat dipakai atau digunakan sekalipun, makna mutu juga dapat berubah-ubah seiring dengan perjalanan waktu. Hingga saat in, tidak ada definisi yang universal dari mutu.
Definisi yang relatif ini memiliki dua aspek. Pertama, dikatakan bermutu apabila sesuai dengan standar atau spesifikasi yang ditetapkan dan sesuai dengan tujuan atau peruntukannya. Seringkali standar ini dilihat dari sisi sang produsen, karena telah memenuhi spesifikasi awal secara konsisten. Konsep seperti ini seringkali dikatakan mutu yang sesungguhnya (quality in fact). Kedua, mutu juga dapat ditetapkan bila sesuai dengan kebutuhan pelanggan, dan didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat memuaskan keinginan pelanggan atau (quality in perception). Pelanggan yang menentukan apakah produk atau layanan itu bermutu atau tidak, sesuai dengan yang dirasakannya (perceived quality).
Sallis mengemukakan mutu adalah sesuatu yang memuaskan dan melampaui keinginan dan kebutuhan pelanggan. Mutu bagi seseorang berbeda dengan orang lain, mutu itu diukur dengan kepuasan terhadap produk. Lebih lanjut, pengertian kualitas atau mutu menurut Sallis dapat dilihat juga dari konsep secara absolut dan relatif, dalam konsep absolut sesuatu (barang) disebut berkualitas bila memenuhi standar tertinggi dan sempurna.
Mutu sebagai konsep sebenarnya di mulai dari industri, Quality menjadi sebuah isu yang diadopsi sebagai pendekatan ilmu baru yang diperkenalkan oleh F.W. Taylor. Menurut Karnataka, mutu pendidikan mencakup aspek-aspek berikut:
“Well-maintained buildings, outstanding teacher, high moral
values; excellent examination result, specialization, the support of parents, business and local community, plentifull resources, the application of the lates technology, strong and purposeful leadership, the care and concern for pupils and students, a well-balanced curriculum,or some combination of these factors.”
Mutu pendidikan mencakup aspek-aspek: Bangunan yang terawat baik, guru yang luar biasa, nilai moral yang tinggi, hasil nilai yang sangat baik, pengkhususan, dukungan orang-tua, perusahaan dan masyarakat sekitar, sumber daya yang melimpah, penggunaan teknologi terkini, kepemimpinan yang kuat dan terarah, peduli dan perhatian kepada siswa, kurikulum yang seimbang, atau kombinasi dari beberapa faktor tersebut.
Vincent mengungkapkan Manajemen mutu (Quality Management) atau manajemen kualitas terpadu (Total Quality Management = TQM) didefinisikan sebagai suatu cara untuk meningkatkan performansi secara terus menerus (Continuous Performance Improvement) pada setiap level operasi atau proses,dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, dengan menggunakan semua sumber daya manusia dan modal yang tersedia. Manajemen mutu menurut Juran dalam Vincent dikenal dengan trilogi mutu, yaitu perencanaan mutu (quality planning), pengendalian mutu (quality controf) dan peningkatan mutu (quality improvement).
Karnataka dalam National Assesment and Accreditation Council (NAAC) menyebutkan pula :
Quality is generally defined as conformance to requirements, Total Quality Management is a people driven process, total quality refers not only to the product but also to the way the product process.
Kualitas secara umum didefiniskan sebagai kesesuaian dengan persayaratan. Manajemen Kualitas Menyeluruh (TQM) adalah proses yang didorong oleh manusia, total kualitas tidak hanya mengacu pada hasil produk akan tetapi juga pada bagaimana cara memproses produk tersebut.
Lebih lanjut NAAC menguraikan Elemen dari TQM yakni:
1) Customer Focus its important to focus on the customer, both internal and external 2) Employee involvement people at all levels make up an organisation and their full involvement enables their abilities to be used for an institutions benefit. 3) Continuous Improvement there is a beginning to the process of TQM but there is no end 4) Universal Responsibility 5) A Sustained Management Commitment to Quality 6) Addressing Deficiencies 7) Quality Measurement 8) Benchmarking 9) Value Improvement 10) Training.
Elemen TQM 1) Fokus Pelanggan, adalah penting untuk berfokus pada pelanggan, baik internal dan eksternal 2) Keterlibatan karyawan pada semua tingkatan organisasi, dengan keterlibatan penuh tersebut mereka dapat mengerahkan kemampuannya yang bermanfaat bagi organisasi 3) Perbaikan secara terus-menerus, ada awal proses tetapi tidak ada akhir 4) Tanggung jawab universal 5) Komitmen manajemen yang berkelanjutan pada kualitas 6) Mangatasi kekurangan 7) Ukuran mutu 8) Standarisasi 9) Perbaikan nilai 10) Pelatihan.
Manajemen mutu menurut Juran dalam Vincent dikenal dengan trilogi mutu, yaitu perencanaan mutu (quality planning), pengendalian mutu (quality controf) dan peningkatan mutu (quality improvement).
Dari definisi beberapa konsep manajemen mutu di atas, dapat disintesiskan bahwa manajemen mutu digambarkan sebagai sebuah filosofi dan pedoman yang menjadi dasar perbaikan/peningkatan organisasi secara berkelanjutan. Strategi manajemen mutu tidak hanya dapat memberikan jaminan akan kualitas produk atau layanan bagi kepuasan pelanggan, namun juga mampu meningkatkan kinerja organisasi. Manajemen mutu menanamkan nilai-nilai kualitas dan layanan pelanggan agar dapat menghasilkan disiplin diri dan kontrol. Namun, apapun penekanan, semua kritik muncul yakin bahwa TQM meningkatkan ruang lingkup dan keragaman pengendalian manajemen. Manajemen mutu memiliki tiga komponen utama: pengendalian mutu, jaminan mutu dan perbaikan mutu. Diketahui bahwa, konsep “Total Quality Management” atau Manejemen Mutu Terpadu (TQM) dalam dunia industri sudah lebih dahulu berkembang dimana penerapannya dalam banyak hal telah menunjukkan hasil yang menakjubkan. Saat ini konsep tersebut telah diterapkan di dunia pendidikan, khususnya pada universitas-universitas yang menerapkan konsep mutu berkelanjutan.
Dapat dipahami pula bahwa, manajemen mutu pada dasarnya berfokus pada perbaikan terus menerus untuk memenuhi kepuasan pelanggan, dalam konteks manajemen pendidikan, penyempurnaan dan pengembangan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, dan penataan fasilitas serta sarana pembelajaran, tidak akan terlalu membawa

perubahan signifikan jika tidak disertai dengan perbaikan pola dan kultur manajemen yang mendukung perubahan-perubahan tersebut.
1.2. Manajemen Mutu Perguruan Tinggi
Setiap organisasi termaksud perguruan tinggi senantiasa berupaya mencari cara untuk meningkatkan kinerja dan keunggulan kompetitif serta berjuang untuk mencapainya melalui berbagai penggunaan pendekatan, salah satunya adalah manajemen mutu atau quality managemen (QM) yang secara sistematis mampu meningkatkan kinerja organisasi dalam kaitannya dengan kualitas jasa atau produk dari perguruan tinggi/akademis.
Manajemen mutu adalah suatu totalitas yang merupakan upaya luas organisasi dengan keterlibatan penuh dari seluruh kekuatan organisasi dan fokus dalam perbaikan berkelanjutan untuk mencapai kepuasan pelanggan. Implementasi manajemen mutu telah diidentifikasikan dan semakin disadari sebagai salah satu bahan utama yang terpenting bagi organisasi untuk dapat sukses dan memiliki keunggulan berdaya saing global.
Dalam konteks perguruan tinggi, mutu juga dipahami secara beragam. Freeman, misalnya, berpendapat bahwa mutu perguruan tinggi ditujukan kepada konstituen atau para pemangku kepentingan yang berbeda-beda. Perguruan tinggi dapat mengartikan mutu sebagai keahlian lulusannya, sehingga mereka akan mendapatkan pekerjaan yang baik pendapatan yang tinggi.
Istilah “Mutu” pendidikan tinggi idealnya dipahami pada mata rantai proses produksi, konsumsi, dan reproduksi akademis. Sering kita terjebak melihat mutu universitas hanya secara indikatif-kuantitatif pada produk akademis semata seperti lulusan, hasil riset, publikasi, serta “pelayanan” masyarakat. Padahal, mutu produk akademis tersebut sangat ditentukan oleh proses produksi dalam suatu kompleks struktur akademis dan non-akademis. Proses produksi akademis tersebut melibatkan subjek ajar, staf akademis, staf non-akademis, nilai bersama, kepemimpinan, infrastruktur, kapital kebudayaan, kekuatan finasial, jejaring, komunikasi, dan sebagainya. Selain itu, mutu pendidikan tinggi dapat ditelusuri jauh pada relevansi serta kepuasan pemakai; bahkan pada proses reproduksi lembaga maupun aktor yang terkait di dalamnya. Proses reproduksi dipahami sebagai “pemulihan tenaga” dari lembaga dan aktor demi kesinambungan proses produksi itu sendiri.
Manajemen mutu secara aktual maupun ideal, dipengaruhi oleh kontek mutu organisasi. Dalam hal ini mencakup dukungan organisasi terhadap mutu, performa mutu di masa lalu, pengetahuan manajerial, dan perluasan permintaan mutu eksternal. Atas dasar itu, Waldman mengemukakan delapan faktor penting bagi praktek manajemen mutu, yaitu:
the elements to be key for TQM Concept are 1) upper management commitment to place quality as a top priority; 2) striving continually to improve employee capabilities and work processes; 3) involment of all organizational members in co-operative, team based efforts to achieve quality improvement efforts; 4) a focus on quality throughout all phases of the design, production and delivery of a product/service, i.e not just the end of product; 5) attempts to involve external suppliers and customers involved in TQM efforts; 6) frequent use of scientific and problem-solving techniques, including statistical process control; 7) the institution of leadership practices oriented towards TQM values and vision; 8) the development of a quality culture.

Elemen-elemen yang menjadi kunci konsep TQM adalah: 1) komitmen manajemen dalam menempatkan kualitas sebagai prioritas utama; 2) terus berupaya meningkatkan kemampuan dan cara kerja karyawan; 3) keterlibatan seluruh organisasi secara kooperatif, upaya tim dalam upaya mencapai perbaikan kualitas; 4) fokus pada kualitas seluruh tahapan desain produksi (bukan hanya pada akhir produksi), dan pengiriman barang/jasa; 5) upaya melibatkan pemasok eksternal dan pelanggan yang terlibat pada upaya TQM; 6) senantiasa menggunakan cara ilmiah dan teknik pemecahan masalah, termaksud dalam mengendalikan proses perhitungan angka-angka; 7) memberika pelatihan kepemimpinan perusahaan yang berorientasi pada nilai dan visi TQM; 8) mengembangkan budaya mutu.
Rowley (1995) mengartikan manajemen mutu sebagai: “a general term which encompases all the policies, systems and process directed towards ensuring the maintenance and enhancement of the quality of educational provision. For example, course design, staff development, the collection and use of feedback from students, staff and employes”.
Istilah umum yang mencakup semua kebijakan, sistem dan proses
yang diarahkan untuk memastikan pemeliharaan dan peningkatan kualitas penyediaan pendidikan. Misalnya, desain pelatihan dan pengembangan karyawan, pengumpulan dan penggunaan umpan balik dari siswa, staf, dan karyawan.
Manajemen mutu dapat dipahami sebagai framework pemikiran yang berproses secara berturut-turut yaitu mendefinisikan mutu, memperbaiki unjuk kerja organisasi, dan memperbaiki sistem administrasinya. Mutu terpadu pendidikan dipahami sebagai suatu proses yang melibatkan pemusatan pada pencapaian kepuasan harapan pelanggan pendidikan, perbaikan terus menerus, pembagian tanggung jawab dengan para pegawai dan pengurangan pekerjaan tersisa dan pengerjaan kembali. Dengan pendekatan mutu terpadu, diharapkan universitas juga menjadi lebih serius menangani hal-hal yang berhubungan dengan pengukuran kinerja dan market share serta isu nilai investasi (value for money). Perbaikan mutu yang berorientasi pada konsumen sangat penting demi kelangsungan universitas tersebut dalam kondisi yang dinamis. Selain itu, kebijakan mengenai strategi manajemen mutu dari suatu universitas dapat merupakan cermin bagi pihak luar terutama mahasiswa dan calon mahasiswa bahwa mutu pendidikan merupakan prioritas utama dari universitas.
Di negara-negara yang relatif mapan di mana pengaruh globalisasi sangat kuat, institusi pendidikan tinggi sudah berubah menjadi lembaga internasional. Dalam kontek seperti itu, di mana selain adanya standar bagi penyelenggaraan international education, dalam rangka perbaikan mutu, manajemen mutu sangat berorientasi pada konsumen baik lokal maupun dunia yang terdesentralisir dan sangat kompetitif. Perguruan Tinggi (PT) sebagai penyelenggara pendidikan tinggi (dikti) juga sebagai pusat pengembangan ilmu dan teknologi diharapkan mampu meningkatkan peranannya dalam memajukan dan mempercepat pembangunan nasional melalui ilmu dan pengembangan teknologi.
Dapat dikatakan bahwa manajemen mutu berperan penting sebagai penggerak utama kesuksesan program penjaminan mutu di perguruan tinggi. Upaya merealisasikan kebijakan program manajemen mutu harus secara konsisten ditetapkan dalam penyusunan rencana strategik, kebijakan, manajemen dan secara operasional penyelenggaraan kebijakan program manajemen mutu dan internasionalisasi riset.
Sehubungan dengan pendekatan strategi tentang mutu, universitas menjadi lebih serius menangani hal-hal yang berhubungan dengan pengukuran kinerja dan market share serta isu nilai investasi (value for money). Perbaikan mutu yang berorientasi pada konsumen sangat penting demi kelangsungan universitas tersebut dalam kondisi yang dinamis. Selain itu, kebijakan mengenai strategi manajemen mutu dari suatu universitas dapat merupakan cermin bagi pihak luar terutama mahasiswa dan calon mahasiswa bahwa mutu pendidikan merupakan prioritas utama dari universitas. Universitas Indonesia (UI) memiliki standar mutu, selain ditetapkan sendiri oleh UI juga menggunakan standar mutu yang sudah tersedia di pasar, antar lain “International Organization for Standardization” (ISO 9000), “British Standard” (BS), dan standar Asean University Network (AUN Standar). Masing-masing standar mempunyai fungsi dan lingkup akuntabilitasnya tersendiri. Untuk lingkup internasional, banyak universitas menggunakan standar ISO 9000. Sedangkan untuk kawasan Asean dikenal standar AUN. UI sejak tahun 2001 telah menjadi anggota AUN, dan sebagai konsekwensinya UI harus mengacu pada standar AUN.
2. Perkembangan Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Perguruan Tinggi
Secara umum, diketahui bahwa Research adalah suatu usaha yang sistematis untuk mencari kebenaran yang sudah ada tetapi belum dibuktikan melalui penelitian. Riset dan Ilmu Pengetahuan (Iptek) sangat erat hubungannya, melalui riset ilmu pengatahuan dapat terus berkembang seiring kemajuan peradaban zaman dan teknologi. Imu Pengetahuan telah ada jauh sebelum sejarah manusia dicatat. Induk ilmu pengetahuian adalah magi yang terdapat dalam suku-suku, magi juga merupakan induk kepercayaan dan seni. Pada mulanya ilmu pengetahuan ditujukan kepada hal-hal yang praktis saja. Manusia masih sibuk dengan mencari makan, pakaian dan perlindungan terhadap keganasan alam. Kemudian berkembang teknologi diikuti oleh perkembangan ilmu dan budaya, hingga saat ini di era globalisasi informasi dan teknologi yang begitu pesatnya yang telah jauh melampaui perkembangan budaya dan seni tradisional.
M.K. Tadjudin pada penataran tenaga peneliti perguruan tinggi yang diselenggarakan oleh Universitas Indonesia menyebutkan batasan ilmu pengetahuan “Adalah suatu hal yang sangat sulit untuk memberi definisi ilmu pengetahuan. Untuk dapat mengerti apakah arti ilmu pengetahuan umumnya dipakai cara penetapan batas-batas ilmu pengetahuan. Sesuatu yang terletak diluarnya adalah tidak ilmiah.” Lebih lanjut beliau memaparkan bahwa Ilmu Pengetahuan tidak menilai keputusan moril, tetapi pemakai ilmu itu yang menilainya. Sebagai contoh, ilmu pengetahuan yang telah menemukan bom atom dan penisilin tidak dapat menilai apakah penemuan itu baik atau tidak. Apakah penemuan itu baik atau tidak, terletak apada pemakainya yang akan menggunakannya untuk tujuan baik atau tidak.
Seiring waktu, Ekspektasi masyarakat pada Perguruan Tinggi terus berkembang, sejak pertama kali berdiri, dimana masyarakat saat itu berharap Perguruan Tinggi bisa memerankan dirinya sebagai agent of education. Saat Perguruan Tinggi sudah mampu memerankan dirinya sebagai agent of education, masyarakat berharap lebih, Perguruan Tinggi tidak hanya dapat memerankan dirinya sebagai agent of education tetapi juga memerankan diri sebagai agent of research and development. Harapan ini terus berlanjut sampai sekarang ini dimana masyarakat berharap Perguruan Tinggi bisa memerankan dirinya sebagai agent of knowledge and technology transfer dan akhirnya sebagai agent of economic development.
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa kekuatan riset sebuah negara sangat ditentukan oleh keberadaan Sumber Daya Iptek (SDM) ipteknya, baik kuantitas maupun kualitasnya. Karena kegiatan riset merupakan proses penciptaan invensi yang bersandar pada kemampuan berkreasi para pelakunya. Mengingat peran riset terhadap perekonomian yang semakin signifikan, maka penting bagi Indonesia dalam hal ini perguruan tinggi untuk dapat meningkatkan kegiatan riset.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi saat ini sangat cepat dan dinamis, seiring dengan perkembangan yang terjadi dalam teknologi elektronika dan informatika. Hal ini ditandai oleh semakin memendeknya “life cycle” dari produk maupun teknologi atau dengan perkataan lain dapat diartikan semakin cepatnya usang suatu produk maupun teknologi. Akibatnya produk-produk baru cenderung ke arah miniaturisasi dan “high precision” pula. Mengacu pada pengertian internasionalisasi sebagaimana dikemukakan oleh Knight , yaitu mengintegrasikan berbagai dimensi internasional dan lintas budaya ke dalam proses pembelajaran, riset, dan pengabdian masyarakat, maka suatu perguruan tinggi membutuhkan suatu strategi ke arah internasionalisasi. Kerangka strategi yang dibangun perlu memuat implementasi konkret berupa peta jalan yang akan dilaksanakan suatu perguruan tinggi menuju internasionalisasi.
Globalisasi dan internasionalisasi membawa dampak perubahan terhadap posisi Perguruan Tinggi dalam strategi nasional sebuah negara. Perguruan tinggi pada dekade ini telah dijadikan sebagai salah satu alat oleh pemerintah di berbagai Negara untuk meningkatkan reputasi internasional. Scott (1998) dalam Eggins (2003) menyatakan bahwa semua Universitas tidak luput dari dampak globalisasi–sebagian menjadi objek sebagian korban, namun sebagian lagi menjadi bagian dari subjek atau agen utama dari globalisasi. Sehingga globalisasi didefinisikan secara netral dan dipandang sebagai faktor lingkungan kunci yang memiliki efek berganda-baik positif dan negatif-pada pendidikan.
Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan perguruan tinggi merupakan faktor yang penting dalam pembangunan suatu negara, khususnya di Indonesia. Hal ini tercermin dalam Undang-Undang Dasar (UUD) yang menjadi acuan dalam pengambilan kebijakan pemerintah. Pembangunan Iptek dan perguruan tinggi bukan hanya akan memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan nasional dalam upaya meningkatkan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat, jika pembangunan Iptek dan pendidikan tinggi mampu menghasilkan produk teknologi dan inovasi serta sumber daya manusia yang terampil untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atau dapat menjadi solusi bagi permasalahan nyata yang dihadapi oleh masyarakat. Tekanan globalisasi dan perubahan paradigma dalam dunia pendidikan tinggi juga menjadikan salah satu agenda negara-negara maju di kawasan Eropa, dimana sejak tahun 2010 lalu mereka telah mengarahkan kepada konvergensi sistem perguruan tinggi di kawasan eropa guna meningkatkan kompatabilitas, mutu, daya tarik dan daya saing seluruh perguruan tinggi Eropa. Berdasarkan hal ini dapat disimpulkan bahwa pembangunan sektor pendidikan tinggi, peningkatan kegiatan riset dan perluasan akses bagi masyarakat untuk memperoleh pendidikan tinggi berkualitas dipandang sebagai sebuah langkah strategis dalam dunia pendidikan, khususnya di perguruan tinggi.
Disebutkan oleh Bank Dunia bahwa “….an approach that pursues primary education alone with leave societies dangerously unprepared for survival in tomorrow’s world.” (World Bank, 2000: 16). Kemajuan teknologi dan peningkatan produktivitas dianggap erat kaitannya dengan investasi dalam bentuk human capital berupa pengetahuan, keahlian, dan akal daya dalam setiap individu; sementara itu, high quality human capital dibangun melalui high quality higher education systems. (World Bank, 2000). Era globalisasi ekonomi ditandai dengan munculnya ratifikasi GATT (1994), WTO (1995), AFTA (2003), APEC (2010), termaksud MEE dan NAFTA (kerjasama ekonomi regional lainnya yang ‘tertutup dan protektif’), dan lainnya. Melalui era globalisasi dan perdagangan bebas paling tidak membuka peluang dan tantangan baru yang menuntut adanya langkah-langkah kebijaksanaan iptek guna mendorong perkembangan standar mutu produksi yang setara dengan standar internasional serta mendorong tumbuhnya daya kreasi dan inovasi guna meningkatkan keunggulan, daya saing, dan nilai tambah barang dan jasa, yang diproduksi di indonesia pada saatnya, sehingga produk dalam negeri akan memliki keunggulan kompetitif dan keunggulan komparatif sendiri. Walaupun di Indonesia struktur industri yang ada masih banyak yang memerlukan dengan sentuhan teknologi anak negeri.
Sebagaimana diakui oleh Bank Dunia, suksesnya pembangunan bukan melalui peningkatan pendidikan dasar semata, melainkan juga bersumber dari basis teknologi yang kuat. Perguruan tinggi berperan penting dalam upaya mencapai kemajuan, meningkatkan daya saing, dan membangun keunggulan bangsa, melalui pengembangan ilmu pengetahuan,

x

Hi!
I'm Kyle!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out