BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Banyak faktor yang mempengaruhi suatu perusahaan dapat terus beroperasi atau tidak. Seiring dengan terjadinya globalisasi, kompetisi antar perusahaan terus meningkat. Fluktuasi kurs dan naiknya harga kebutuhan pokok menyebabkan biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan menjadi semakin tinggi. Keadaan politik yang tidak stabil dan perubahan peraturan pemerintah yang dinamis juga turut mempengaruhi apakah suatu perusahaan dapat bertahan untuk terus beroperasi.

Kemampuan suatu perusahaan untuk dapat bertahan dan terus beroperasi tidak dapat dilihat hanya dari perkembangannya saja. Dari luar, suatu perusahaan dapat terlihat sedang berkembang pesat misalnya melalui pengembangan produk atau teknologi baru, membuka segmen pasar baru untuk berburu pelanggan yang baru, ataupun mengakuisisi anak perusahaan baru dan sebagainya. Namun jika dilihat dari kinerja keuangannya, bisa saja perusahaan tersebut sudah dalam kondisi tidak sehat.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Kinerja keuangan suatu perusahaan penting untuk diketahui, untuk mengetahui apakah operasional perusahaan tersebut tergolong bagus dan apakah perusahaan dapat bertahan meskipun dalam situasi ekonomi yang kurang memadai. Kinerja keuangan juga menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah perusahaan tersebut layak dan menguntungkan untuk diinvestasikan. Kinerja keuangan perusahaan dapat diketahui melalui data yang diperoleh dari laporan keuangan perusahaan. Menurut Tampubolon (2013 : 2), karakteristik dari tujuan perusahaan adalah memaksimalkan keuntungan ekonomi kepada pemilik perusahaan. Dengan kata lain tujuan organisasi bisnis atau perusahaan adalah memaksimalkan keuntungan moneter pemegang saham.
Laporan keuangan bermanfaat bagi pihak eksternal, salah satu diantaranya adalah investor maupun calon investor, untuk menjadi pedoman penilaian kinerja perusahaan, untuk menentukan apakah perusahaan tersebut akan menguntungkan investor jika mereka melakukan investasi. Dengan demikian, sangatlah penting untuk mengetahui apakah perusahaan dalam keadaan keuangan yang bagus dan apakah kegiatan operasi perusahaan berhasil memberikan nilai atau keuntungan kepada perusahaan dan investornya.

Laporan keuangan merupakan hal yang penting bagi perusahaan dalam menjalankan usahanya. Laporan keuangan merupakan bentuk pertanggungjawaban dari pihak manajemen kepada Dewan Direksi maupun kepada pihak luar seperti investor, kreditor, pemerintah, pelanggan dan masyarakat. Laporan keuangan merupakan hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat berkomunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak-pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas perusahaan tersebut (Munawir, 2007:2). Laporan keuangan bermanfaat sebagai pedoman bagi Dewan Direksi dan pihak manajemen dalam pengambilan keputusan dan penentuan kebijakan perusahaan terutama untuk jangka yang panjang.

Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu (Kasmir, 2008:7). PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Revisi 2009) menyatakan bahwa laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Meskipun laporan keuangan memberikan informasi keuangan perusahaan secara lengkap, namun laporan keuangan belum menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan penggunanya untuk pengambilan keputusan ekonomi.

Melalui data yang diperoleh dari laporan keuangan, kita dapat menilai kinerja keuangan perusahaan, yaitu seberapa jauh kemampuan suatu perusahaan dalam mendapatkan hasil atau keuntungan dengan menggunakan modal yang dimiliki perusahaan secara efektif dan efisien. Dalam PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Revisi 2009) menyatakan bahwa laporan keuangan juga menunjukkan hasil pertanggungjawaban manajemen atas penggunaan sumber daya yang dipercayakan kepada mereka.
Pada umumnya, rasio keuangan konvensional yang terdiri dari rasio profitabilitas, rasio likuiditas, rasio solvabilitas dan rasio aktivitas, yang digunakan untuk mengetahui kinerja keuangan suatu perusahaan. Namun sebenarnya rasio keuangan konvensional terdapat kekurangan, yaitu rasio keuangan konvensional dalam perhitungannya mengabaikan adanya biaya modal. Rasio keuangan konvensional juga tidak mengukur kinerja keuangan perusahaan dari sisi nilai pasar perusahaan dan tidak mengukur berapa penciptaan nilai tambah perusahaan dalam periode akuntansi tertentu.

Rasio keuangan lain yang dapat kita gunakan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan, diantaranya adalah Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Menurut Rudianto (2006: 340), EVA adalah suatu sistem manajemen keuangan untuk mengukur laba ekonomi dalam suatu perusahaan, yang menyatakan bahwa kesejahteraan hanya dapat tercipta jika perusahaan mampu memenuhi semua biaya operasi (operating cost) dan biaya modal (cost of capital). EVA dapat menutupi kelemahan rasio keuangan konvensional dan menentukan kinerja keuangan perusahaan dengan menghitung berapa penambahan nilai yang berhasil diciptakan perusahaan kepada perusahaan dan investor dengan memperhitungkan biaya modal. EVA menghitung penambahan nilai yang diciptakan perusahaan dengan mengurangi laba bersih operasi setelah pajak dengan biaya modal rata-rata (Rudianto, 2006: 341).

Market Value Added (MVA) merupakan perbedaan antara nilai pasar ekuitas suatu perusahaan dengan nilai buku seperti yang disajikan dalam neraca, nilai pasar dihitung dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar (Brigham dan Houston, 2010:111). MVA dihitung dengan mengurangi nilai pasar saham dengan total ekuitas saham biasa. Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) adalah rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan untukmelihat apakah perusahaan telah menciptakan nilai tambah kepada perusahaan dan pemegang saham, serta menghitung berapa besar penambahan atau penurunan nilai yang telah diciptakan perusahaan pada periode tertentu.
Indonesia adalah negara berkembang. Negara berkembang terus melakukan proses pembangunan dan perkembangan agar negara dapat menjadi lebih maju dan modern. Oleh karena itu, pemerintah telah fokus pada pembangunan Indonesia, tertutama pada pembangunan infrastruktur. Proyek pembangunan infrastruktur termasuk pembangunan jalan tol, jalur kereta api, bandar udara baru, perluasan bandara udara, pelabuhan laut baru dan perluasan pelabuhan. Jika berhasil dieksekusi, maka pembangunan infrastruktur tersebut akan mendukung pertumbuhan ekonomi dan tentu bedampak pada peningkatan permintaan semen.

Banyak orang berpersepsi jika Badan Usaha Milik Negara (BUMN) adalah perusahaan yang lebih aman untuk diinvestasikan karena fluktuasinya cenderung lebih stabil dan BUMN lebih konsisten dalam pembagian dividen, terutama perusahaan yang perusahaan yang bergerak dalam industri barang konsumsi yang produknya berupa produk yang dipakai sehari-hari misalnya makanan, minuman, infrastruktur dan lain-lain. Perusahaan yang dimiliki pemerintah juga lebih kecil kemungkinannya untuk bangkrut karena adanya Penyertaan Modal Negara (PMN) yang diberikan pemerintah kepada BUMN serta proyek pemerintah juga akan mendukung kinerja saham BUMN. Namun meskipun dengan adanya Penyertaan Modal Negara (PMN) pemerintah, tidak menjamin bahwa BUMN akan selalu memiliki kinerja keuangan yang bagus pula.

PT Semen Baturaja (Persero) Tbk melakukan penawaran saham publik atau Initial Public Offering (IPO) pada tahun 2013. Pada Maret 2015, PT Semen Baturaja (Persero) Tbk menandatangani perjanjian kontrak dengan perusahaan RRC untuk membangun Pabrik Baturaja II yang direncanakan akan mulai digunakan akhir tahun 2017 untuk menaikkan kapasitas produksi perusahaan sebanyak 1,8 juta ton semen. Pendanaan pembangunan pabrik baru ini berasal dari sisa hasil IPO, pendanaan eksternal berupa penerbitan obligasi dan pinjaman ke bank. Perkembangan perusahaan tidak menjamin perusahaan memiliki kesehatan dan kinerja keuangan yang baik, ditambah lagi dengan penerbitan obligasi dan pinjaman ke bank yang turut menaikkan risiko keuangan perusahaan.

Penelitian original yang dipakai pada penelitian ini adalah penelitian dari Sahara et al (2015). Sahara et al (2015) menganalisis kinerja keuangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk periode 2011-2013 dengan menggunakan rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, Economic Value Added (EVA). Penelitian Sahara et al (2015) menggunakan data sekunder dan metode pendekatan kuantitatif serta menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi keuangan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk periode 2011-2013 dengan rasio likuiditas dan leverage terlihat baik. Rasio aktivitas dan rasio profitabilitas menunjukkan bahwa perusahaan masih kurang efisien, sedangkan kinerja keuangan PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk jika dihitung oleh metode EVA dapat diartikan efisien.
Penelitian ini menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Hal ini dikarenakan peneliti merasa rasio keuangan konvensional memiliki kekurangan dan dapat ditutup oleh Economic Value Added (EVA). Economic Value Added (EVA) dapat dengan tepat menghitung laba ekonomi sebuah perusahaan pada periode tertentu sehingga dapat dengan lebih tepat dan jelas menunjukkan kinerja keuangan perusahaan tersebut. Alasan peneliti menambahkan Market Value Added (MVA) pada penelitian ini adalah karena Economic Value Added (EVA) menilai kinerja dari internal perusahaan sedangkan Market Value Added (MVA) menilai dari eksternal perusahaan.

Atas dasar latar belakang tersebut, peneliti merasa terdorong untuk melakukan penelitian pada PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. Dengan uraian di atas, peneliti merasa terdorong untuk melakukan penelitian sdengan judul “ANALISIS KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN DENGAN MENGGUNAKAN ECONOMIC VALUE ADDED (EVA) DAN MARKET VALUE ADDED (MVA) (STUDI PADA PT SEMEN BATURAJA (PERSERO) TBK PERIODE 2013-2017)”
Perumusan Masalah
Apakah kinerja keuangan perusahaan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk meningkat atau menurun pada periode 2013-2017 jika dihitung dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA)?
Tujuan Penelitian
Tujuan peneliti melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja keuangan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk yang diteliti dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) dari tahun 2013 sampai tahun 2017.

Manfaat Penelitian
Bagi perusahaan
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perusahaan dalam penentuan kebijakan ekonomi di masa yang akan datang dan masukan bagi perusahaan mengenai Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) yang dapat diterapkan untuk menjadi alat pengukuran kinerja keuangan perusahaan.

Bagi investor
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai kondisi keuangan perusahaan agar dapat menjadi bahan pertimbangan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi yang terbaik.

Bagi akademisi
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran dan menambah literatur mengenai analisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Penelitian ini juga diharapkan dapat memacu penelitian yang lebih baik mengenai analisis kinerja keuangan perusahaan.

Bagi peneliti selanjutnya
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi dan menambah ilmu pengetahuan peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian yang berhubungan dengan analisis kinerja keuangan terutama dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA), agar peneliti selanjutnya mengetahui cara dan sistematika dalam menganalisis kinerja keuangan perusahaan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Kinerja Keuangan
Laporan keuangan adalah laporan yang menunjukkan kondisi keuangan perusahaan pada saat ini atau dalam suatu periode tertentu (Kasmir 2008 : 7). PSAK No.1 Paragraf ke 7 (Revisi 2009) menyatakan bahwa laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan suatu entitas. Laporan keuangan merupakan output dan hasil akhir dari proses akuntansi, yang menjadi bahan informasi keuangan bagi para pemakainya sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan. Laporan keuangan juga sebagai pertanggungjawaban atau accountability (Harahap, 2012 : 205).

Dalam PSAK No.1 paragraf ke 7 (Revisi 2009) menyatakan bahwa tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi.
Dalam PSAK No.1 Paragraf ke 8 (Revisi 2009) menyatakan bahwa laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini:
laporan posisi keuangan pada akhir periode;
laporan laba rugi komprehensif selama periode;
laporan perubahan ekuitas selama periode;
laporan arus kas selama periode;
catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan informasi penjelasan lainnya; dan
laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian kembali pos-pos dalam laporan keuangannya.

Analisis laporan keuangan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari analisis bisnis yang lebih luas. Menurut Subramanyam dan Wild (2014 : 4), analisis laporan keuangan adalah aplikasi dari alat dan teknik analitis untuk laporan keuangan bertujuan umum dan data-data yang berkaitan untuk menghasilkan estimasi dan kesimpulan yang bermanfaat dalam analisis bisnis.
Tampubolon (2013 : 39) menyatakan bahwa:
Analisis keuangan menghasilkan informasi tentang penilaian dan keadaan keuangan perusahaan, baik yang telah lampau, atau saat sekarang serta ekspektasinya di masa depan. Tujuan analisis ini adalah untuk mengidentifikasi setiap kelemahan dari keadaan keuangan yang dapat menimbulkan masalah di masa yang akan datang, serta menentukan setiap kekuatan yang dapat menjadi suatu keunggulan perusahaan. Disamping itu analisis yang dilakukan oleh pihak luar perusahaan dapat digunakan untuk menentukan tingkat kredibilitas atau potensi untuk investasi.

Kinerja keuangan merupakan alat pengukur tingkat keberhasilan manajemen dalam mengelola sumber daya keuangan yang dimiliki perusahaan. Menurut Fahmi (2011 : 239), kinerja keuangan adalah suatu analisis yang dilakukan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah melaksanakan kinerja dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.

Dalam menganalisis kinerja keuangan terdapat lima tahapan yang harus dilakukan, terdiri dari:
Melakukan review terhadap data laporan keuangan
Review dilakukan untuk memastikan laporan keuangan yang tersebut sesuai dengan penerapan kaidah-kaidah yang berlaku umum dalam dunia akuntansi agar laporan keuangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

Melakukan perhitungan
Metode perhitungan disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang sedang dihadapi sehingga hasil dari perhitungan akan memberikan kesimpulan yang sesuai dengan hasil analisis yang diharapkan.

Melakukan perbandingan hasil perhitungan yang telah diperoleh
Metode yang paling umum digunakan untuk melakukan perbandingan yaitu analisis runtut waktu dan analisis silang tempat. Menurut Kuncoro (2009 : 146), analisis runtut waktu adalah metode analisis yang dilakukan menurut waktu pada suatu variabel tertentu, untuk melihat pengaruh perubahan dalam rentang waktu tertentu. Variasi terjadinya analisis adalah antarwaktu. Sedangkan analisis silang tempat adalah analisis yang dilakukan pada suatu titik waktu untuk mengamati respons dalam periode yang sama sehingga variasi terjadinya adalah antarpengamatan. Dari hasil perbandingan akan menghasilkan kesimpulan yang menyatakan posisi perusahaan tersebut apakah berada dalam kondisi baik atau tidak baik.

Melakukan penafsiran terhadap masalah yang ditemukan
Dari hasil perbandingan dan kesimpulan yang sudah didapatkan, akan dicari masalah utama yang diduga menjadi penyebab perusahaan berada dalam kondisi tersebut.

Mencari dan memberikan solusi atas masalah yang ditemukan
Setelah menemukan permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan, akan dicari solusi yang diharapkan dapat menjadi masukan atau saran agar kendala dan hambatan yang dihadapi perusahaan dapat diselesaikan.
Economic Value Added (EVA)
Economic Value Added (EVA) merupakan estimasi laba ekonomi usaha yang sebenarnya untuk tahun tertentu, dan sangat jauh berbeda dari laba bersih akuntansi di mana laba akuntansi tidak dikurangi dengan biaya ekuitas, sementara dalam penghitungan EVA biaya ini akan dikeluarkan (Brigham dan Houston, 2010 : 111). EVA dapat dihitung dengan mengurangkan Net Operating Profit After Tax (NOPAT) dengan biaya modal.

Komponen Pembentuk EVA terdiri dari Net Operating Profit After Tax (NOPAT) dan biaya modal. Dalam Young dan O’Byrne (2001 : 39) dikatakan bahwa:
NOPAT merupakan laba operasi perusahaan, setelah pajak. Biaya modal sama dengan modal yang diinvestasikan perusahaan dikalikan rata-rata tertimbang dari biaya modal (Weighted Average Cost of Capital atau WACC). Modal yang diinvestasikan adalah jumlah seluruh keuangan perusahaan, terlepas dari kewajiban jangka pendek, pasiva yang tidak menanggung bunga (non-interest-bearing liabilities), seperti utang, upah yang akan jatuh tempo (accrued wages), dan pajak yang akan jatuh tempo (accrued taxes).

Menurut Young dan O’Byrne (2001 : 148), biaya modal adalah tingkat dari pengembalian yang diharapkan oleh penyedia dana, jika modal itu diinvestasikan di tempat lainnya, dalam suatu proyek, aktiva, atau perusahaan dengan risiko yang sebanding. Dengan kata lain, biaya modal adalah suatu biaya kesempatan.

Kelebihan EVA menurut Young dan O’Byrne (2001 : 32) menyatakan bahwa EVA memiliki kelebihan:
EVA menurut teori dapat dihitung untuk setiap kesatuan, termasuk divisi, departemen, lini produk, segmen bisnis secara geografis dan sebagainya. Selain itu, EVA merupakan pengukuran aliran karena menghitung laba. EVA adalah cara mengubah pengukuran saham dari kelebihan pengembalian menjadi aliran. Perbedaan EVA dengan pengukuran laba konvensional adalah EVA merupakan laba ekonomis, kebalikan dari laba akunting. Gagasan dari laba ekonomis menegaskan hubungan EVA terhadap kekayaan pemegang saham, kondisi akhir yang dibutuhkan dari tolok ukur berdasarkan nilai.

310515737870EVA = NOPAT – Biaya modal
NOPAT = Laba usaha X (1-Tarif Pajak)
Biaya modal = Modal yang diinvestasikan X Rata-rata
tertimbang biaya modal(WACC)
Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC)=
{ LiabilitasLiabilitas dan ekuitas X Biaya liabilitasLiabilitas (1-Tarif Pajak) } + { EkuitasLiabilitas dan ekuitas X Laba setelah pajakEkuitas }
00EVA = NOPAT – Biaya modal
NOPAT = Laba usaha X (1-Tarif Pajak)
Biaya modal = Modal yang diinvestasikan X Rata-rata
tertimbang biaya modal(WACC)
Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC)=
{ LiabilitasLiabilitas dan ekuitas X Biaya liabilitasLiabilitas (1-Tarif Pajak) } + { EkuitasLiabilitas dan ekuitas X Laba setelah pajakEkuitas }
Menurut Young dan O’Byrne (2001 : 39), untuk menjadi alat pengukuran kinerja, EVA dihitung sebagai berikut:
Rudianto (2006: 348) menjelaskan hasil penilaian kinerja keuangan suatu perusahaan dengan menggunakan EVA dapat dikategorikan dalam tiga kelompok berbeda. EVA bernilai positif berarti perusahaan telah melakukan lebih baik daripada yang diharapkan penyandang dana (kreditor dan investor) dan perusahaan telah berhasil memberi nilai tambah ekonomis pada perusahaan serta memberi pengembalian yang sepadan kepada pemegang saham dalam tahun tertentu.
EVA bernilai negatif berarti perusahaan telah melakukan lebih buruk daripada yang diharapkan penyandang dana (kreditor dan investor) serta tidak mampu memberi pengembalian yang sepadan kepada pemegang saham dalam tahun tertentu.
EVA bernilai 0 (nol) berarti perusahaan berada dalam titik impas, artinya perusahaan tidak menambah ataupun mengurangi nilai perusahaan, karena semua laba digunakan untuk membayar kewajiban kepada penyandang dana pada tahun tertentu.

Bila EVA mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, berarti perusahaan memiliki kinerja keuangan yang lebih baik pada tahun tersebut dibanding tahun sebelumnya. Bila EVA mengalami peurunan, berarti perusahaan memiliki kinerja keuangan yang lebih buruk pada tahun tersebut dibanding dengan tahun sebelumnya.

Market Value Added (MVA)
Market Value Added (MVA) merupakan perbedaan antara nilai pasar ekuitas suatu perusahaan dengan nilai buku yang disajikan dalam laporan keuangan. Nilai pasar dihitung dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar (Brigham dan Houston, 2010 : 111).

Komponen Pembentuk MVA terdiri dari nilai pasar dan modal yang diinvestasikan. Dalam Young dan O’Byrne (2001 : 26) dikatakan bahwa:
Nilai pasar adalah nilai perusahaan, yakni jumlah nilai pasar dari semua tuntutan modal terhadap perusahaan oleh pasar modal dan pada tanggal tertentu. Lebih sederhana, itu adalah jumlah nilai pasar dari utang dan ekuitas. Modal yang diinvestasikan adalah jumlah modal yang disediakan penyedia dana pada tanggal yang sama.
Menurut Young dan O’Byrne (2001 : 28), MVA juga memiliki kekurangan. Pertama, MVA merupakan sebuah indikator yang mengukur perbedaan nilai pasar dan modal yang diinvestasikan pada tanggal tertentu dan tidak memperhatikan apakah perusahaan sudah membayar dividen atau belum. Contohnya, jika terdapat dua perusahaan dengan nilai pasar dan nilai modal yang diinvestasikan sama, maka kedua perusahaan tersebut memiliki MVA yang sama. Namun perusahaan yang telah dengan teratur mengembalikan dividen atau kas kepada pemegang sahamnya tentu telah menghasilkan kekayaan yang lebih banyak bagi pemegang sahamnya.

Kedua, MVA hanya dapat diterapkan pada manajemen tingkat atas. Hal ini disebabkan karena untuk manajemen tingkat bawah, hubungan antara tindakan mereka dengan kelebihan pengembalian terlalu jauh untuk memotivasi mereka untuk menciptakan nilai secara efektif untuk digunakan sebagai indikator mengenai kontribusi mereka terhadap nilai pemegang saham. Ketiga, MVA merupakan pengukuran saham, yaitu pengukuran yang dilakukan pada suatu waktu tertentu saja. Namun sebenarnya, kinerja manajerial harus di evaluasi selama periode tertentu, misalnya selama tiga bulan, enam bulan atau satu tahun.

Rumus untuk menghitung MVA dalam Young dan O’Byrne (2001 : 26) adalah sebagai berikut:
47752029845MVA = Nilai pasar perusahaan – Modal yang diinvestasikan
Nilai pasar perusahaan = Harga saham X Jumlah saham beredar
00MVA = Nilai pasar perusahaan – Modal yang diinvestasikan
Nilai pasar perusahaan = Harga saham X Jumlah saham beredar

MVA bernilai positif jika nilai pasar perusahaan melebihi modal yang diinvestasikan, artinya perusahaan telah meningkatkan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham. MVA bernilai negatif jika nilai perusahaan kurang dari modal yang diserahkan kepada perusahaan, artinya perusahaan tidak meningkatkan dan bahkan menurunkan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham. MVA bernilai 0 (nol) jika nilai pasar perusahaan sama dengan modal yang diinvestasikan, artinya perusahaan tidak meningkatkan ataupun mengurangi nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham.

Bila MVA mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya, berarti perusahaan memiliki kinerja keuangan yang lebih baik pada tahun tersebut dibanding tahun sebelumnya. Bila MVA mengalami peurunan, berarti perusahaan memiliki kinerja keuangan yang lebih buruk pada tahun tersebut dibanding dengan tahun sebelumnya.

Economic Value Added (EVA) menilai kinerja perusahaan dari dalam perusahaan, sedangkan Market Value Added (MVA) menilai kinerja perusahaan dari luar perusahaan. Hartini (2011) menyatakan bahwa jika kinerja manajemen suatu perusahaan meningkat, yang dicerminkan oleh variabel EVA, maka nilai pasar perusahaan tersebut belum tentu juga akan meningkat, yang dicerminkan oleh variabel MVA, begitu juga sebaliknya
Sedangkan dalam penelitian yang dilakukan Salbiah dan Asmara (2012), disimpulkan bahwa :
pengaruh EVA terhadap MVA merupakan pengaruh positif yang berarti setiap kenaikan atau penurunan EVA akan berpengaruh dengan kenaikan dan penurunan MVA. Tetapi EVA yang negatif belum tentu menyebabkan MVA yang negatif dan sebaliknya, karena MVA merupakan harapan kinerja masa yang akan datang.

Teori Sinyal
Teori sinyal pertama kali ditulis oleh George Akerlof dalam karyanya “The Market for Lemons” tahun 1970. Akerlof memperkenalkan istilah asimetri informasi dan mempelajari ketidakseimbangan informasi mengenai informasi kualitas produk antara pembeli dan penjual, dengan melakukan pengujian terhadap pasar mobil bekas.

Akerlof menemukan bahwa ketika pembeli tidak memiliki informasi spesifik dan hanya memiliki persepsi umum mengenai produk tersebut, maka pembeli akan menilai semua produk pada harga yang sama, baik produk yang berkualitas tinggi maupun yang berkualitas rendah, sehingga merugikan penjual produk berkualitas tinggi. Kondisi dimana salah satu pihak (dalam kasus ini penjual) yang melakukan transaksi dengan memiliki informasi lebih dari pihak lain (dalam kasus ini pembeli) disebut adverse selection. Menurut Akerlof, adverse selection dapat dikurangi apabila penjual mengkomunikasikan produk mereka dengan memberikan sinyal berupa informasi tentang kualitas produk yang mereka miliki.

Pemikiran Akerlof kemudian dikembangkan oleh Michael Spence pada tahun 1973 dalam model keseimbangan sinyal (basic equilibrium signaling model) dan dikembangkan oleh Stephen Ross pada tahun 1977. Ross menyatakan bahwa pihak eksekutif perusahaan yang memiliki informasi lebih baik mengenai perusahaannya akan terdorong untuk menyampaikan informasi tersebut kepada calon investor agar harga saham perusahaannya meningkat.

Brigham dan Houston (2010 : 36) mengatakan bahwa sinyal adalah suatu tindakan yang diambil perusahaan untuk memberi petunjuk bagi investor tentang bagaimana manajemen memandang prospek perusahaan. Sinyal ini berupa informasi mengenai apa yang sudah dilakukan oleh manajemen untuk merealisasikan keinginan pemilik. Informasi yang dikeluarkan oleh perusahaan berpengaruh terhadap keputusan investasi pihak luar perusahaan.
Tujuan perusahaan memberikan informasi mengenai perusahaan kepada pihak luar adalah karena terdapat asimetri informasi antara perusahaan dan pihak luar. Pihak internal perusahaan mengetahui lebih banyak dan jelas mengenai perusahaan dan prospek yang akan datang daripada pihak luar dan pihak lain yang berkepentingan, termasuk investor dan kreditor. Kurangnya informasi bagi pihak luar mengenai perusahaan menyebabkan memberi harga yang rendah untuk perusahaan. Perusahaan dapat meningkatkan nilai perusahaan dengan mengurangi asimetri informasi dengan memberikan sinyal pada pihak luar.

Teori sinyal menyatakan bahwa perusahaan yang berkualitas baik dengan sengaja akan memberikan sinyal kepada pihak luar, dengan demikian pihak luar diharapkan dapat membedakan perusahaan yang berkualitas baik dan buruk. Agar sinyal tersebut efektif, maka harus dapat ditangkap dan dipersepsikan dengan baik, serta tidak mudah ditiru oleh perusahaan yang berkualitas buruk.

Tinjauan Penelitian Terdahulu
Penelitian terdahulu yang meneliti kinerja keuangan perusahaan menggunakan metode yang berbeda. Ginanjar dan Ferlina (2015) menganalisis kinerja keuangan perusahaan rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2009-2013 dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Penelitian ini menggunakan data sekunder bersifat kuantitatif dan menggunakan metode analisis data deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai EVA dan MVA perusahaan rokok yang dijadikan sampel umumnya positif. PT Bentoel International Investama Tbk, memiliki EVA dan MVA yang positif pada tahun 2009-2012, tetapi memiliki nilai EVA dan MVA yang negatif pada tahun 2013.

Haryaning (2010) menganalisis kinerja keuangan PT Unitex Tbk di Bogor periode 2006-2008 dengan menggunakan Economic Value Added (EVA). Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui survei lapangan dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh melalui dokumentasi dan penelitian pustaka. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif serta menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai EVA PT Unitex Tbk pada tahun 2006 dan 2008 bernilai negatif. Sedangkan pada tahun 2007, EVA perusahaan bernilai positif.

Sahara et al (2015) menganalisis kinerja keuangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk periode 2011-2013 dengan menggunakan rasio likuiditas, rasio aktivitas, rasio solvabilitas, rasio profitabilitas, Economic Value Added (EVA). Penelitian ini menggunakan data sekunder. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan menggunakan metode analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi keuangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk periode 2011-2013 dengan rasio likuiditas dan leverage terlihat baik. Rasio aktivitas dan rasio profitabilitas menunjukkan bahwa perusahaan masih kurang efisien, sedangkan kinerja keuangan PT. Semen Indonesia jika dihitung oleh metode EVA dapat diartikan efisien.
Sichigea dan Vasilescu (2015) menganalisis kinerja keuangan perusahaan dengan menggunakanEconomic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Penelitian ini menggunakan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perusahaan telah menggunakan modal kerja secara efisien jika hanya menggunakan indikator ROA, ROCE dan ROE. Namun perusahaan menunjukkan nilai EVA dan MVA negatif yang berarti perusahaan gagal menciptakan peningkatan nilai bagi perusahaan pada tahun 2013 dan 2014.

Tamba (2012) menganalisis kinerja keuangan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank BNI (Persero) Tbk dan PT Bank BRI (Persero) Tbk, dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui dokumentasi dan menggunakan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai EVA Bank Mandiri, BNI dan BRI pada tahun 2008-2010adalah positif selama tiga tahun berturut-turut. Nilai MVA Bank Mandiri, bNI dan BRI positif selama tahun 2008-2010, meskipun Bank BNI mengalami nilai MVA negatif pada tahun 2008.

Wahyudi (2009) menganalisis kinerja keuangan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk periode 2005-2007 dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diperoleh melalui dokumentasi. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan menggunakan metode analisis data deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai EVA dan MVA PT Telekomunikasi Indonesia Tbk bernilai positif dan mengalami kenaikan setiap tahunnya.
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
Nama
Peneliti Judul Penelitian Variabel yang digunakan dalam
Penelitian Hasil
Penelitian
1. Ginanjar dan Ferlina (2015) Analisis Kinerja Keuangan dengan Menggunakan Metode Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA): Studi pada perusahaan rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2009-2013
Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA),Kinerja Keuangan Nilai EVA dan MVA perusahaan rokok yang dijadikan sampel umumnya positif. PT Bentoel International Investama Tbk, memiliki EVA dan MVA yang positif pada tahun 2009-2012, tetapi memiliki nilai EVA dan MVA yang negatif pada tahun 2013.

2. Haryaning (2010) Analisis Kinerja Keuangan dengan Metode Economic Value Added (EVA) pada PT Unitex Tbk, Bogor
Economic Value Added (EVA), Kinerja Keuangan Nilai EVA PT Unitex Tbk pada tahun 2006 dan 2008 bernilai negatif. Sedangkan pada tahun 2007, EVA perusahaan bernilai positif.

3. Sahara et al (2015) Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Menggunakan Rasio Keuangan dan Metode Economic Value Added (EVA) (Studi pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk periode 2011-2013) Rasio Likuiditas, Rasio Aktivitas, Rasio Solvabilitas, Rasio Profitabilitas, Economic Value Added (EVA),Kinerja Keuangan Kondisi keuangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk periode 2011-2013 dengan rasio likuiditas dan leverage terlihat baik. Rasio aktivitas dan rasio profitabilitas masih kurang efisien. Kinerja keuangan PT Semen Indonesia jika dihitung oleh metode EVA dapat diartikan efisien.
Tabel 2.1
Ringkasan Penelitian Terdahulu
4. Sichigea dan Vasilescu (2015) Economic Value Added and Market Value Added – Modern Indicators for Assessment the Firm’s Value Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA),Kinerja Keuangan Kinerja keuangan perusahaan menunjukkan perusahaan telah menggunakan modal kerja secara efisien jika hanya menggunakan ROA, ROCE dan ROE. Namun perusahaan menunjukkan nilai EVA dan MVA negatif yang berarti perusahaan gagal menciptakan peningkatannilai bagi perusahaan pada tahun 2013 dan 2014.

5. Tamba (2012) Analisis Kinerja Keuangan dengan Menggunakan Pendekatan EVA (Economic Value Added) dan MVA (Market Value Added) pada Bank BUMN yang Go Public (Studi Kasus pada PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank BNI (Persero) Tbk dan PT. Bank BRI (Persero) Tbk)
Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA),Kinerja Keuangan Nilai EVA Bank Mandiri, BNI dan BRI pada tahun 2008-2010 positif selama tiga tahun berturut-turut. Nilai MVA Bank Mandiri, BNI dan BRI positif selama tahun 2008-2010, meskipun Bank BNI mengalami nilai MVA negatif pada tahun 2008.

6. Wahyudi (2009) Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Menggunakan Pendekatan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) Periode Tahun 2005-2007 (Studi pada PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.)
Economic Value Added (EVA), Market Value Added (MVA), Kinerja Keuangan Nilai EVA bernilai positif dan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Nilai MVA bernilai positif dan mengalami kenaikan setiap tahunnya.

Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual adalah pondasi utama dimana sepenuhnya proyek penelitian ditujukan, dimana hal ini merupakan jaringan hubungan antar variabel yang secara logis diterangkan, dikembangkan, dan dielaborasi dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi melalui proses wawancara, observasi dan survei literatur  (Kuncoro, 2009:52).

Peneliti akan menganalisis kinerja keuangan dari PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. Data-data yang diperlukan untuk mengetahui dan menganalisis kinerja keuangan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk diperoleh dari laporan keuangan perusahaan yang diaudit. Setelah mendapatkan data-data yang diperlukan, maka peneliti akan mengolah data dengan menggunakan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA).

379730335280PT Semen Baturaja (Persero) Tbk
Laporan Keuangan Perusahaan yang Diaudit
Economic Value Added (EVA)
Market Value Added (MVA)
Analisis Kinerja Keuangan
00PT Semen Baturaja (Persero) Tbk
Laporan Keuangan Perusahaan yang Diaudit
Economic Value Added (EVA)
Market Value Added (MVA)
Analisis Kinerja Keuangan
Berikut adalah kerangka pemikiran peneliti:
Gambar 2.1
Kerangka Konseptual
0160718500BAB III
METODE PENELITIAN
Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan metode studi kasus. Efferin et al (2004:34) mengatakan bahwa pendekatan kuantitatif digunakan dalam penelitian yang menekankan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel-variabel penelitian dalam angka (quantitative) dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik dan atau permodelan matematis.

Efferin et al (2004 : 50) mengatakan bahwa studi kasus merupakan teknik pemecahan masalah yang dialami oleh suatu organisasi, di mana pemecahan masalah tersebut akan didasarkan pada masalah serupa yang pernah dialami oleh organisasi lain. Kuncoro (2009 : 89) juga mengatakan bahwa metode studi kasus merupakan pengujian yang mendalam terhadap unit yang berkepentingan sehingga peneliti bisa memperoleh informasi secara detail tentang subjek yang diteliti.

Tempat dan Waktu Penelitian
Peneliti melakukan penelitian pada PT Semen Baturaja (Persero) Tbk, yaitu salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang industri semen, dengan penelitian kepustakaan. Lubis (2012:19) mengatakan bahwa penelitian kepustakaan adalah penelitian di mana objek dan tempat penelitiannya berada di perpustakaan. Penelitian ini dilakukan mulai bulan Oktober 2017.

Batasan Operasional
Batasan penelitian yang ditetapkan oleh peneliti yaitu:
Analisis yang dilakukan hanya terbatas pada analisis EVA dan MVA pada PT Semen Baturaja (Persero) Tbk untuk periode 2013-2017.

Komponen perhitungan EVA yang digunakan dalam penelitian ini adalah NOPAT (Net Operating Profit After Taxes), modal yang diinvestasikan dan WACC (Weighted Average Cost of Capital).

Komponen MVA yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai pasar perusahaan dan modal keseluruhan yang diinvestasikan dalam perusahaan.

Definisi Operasional
Analisis kinerja keuangan adalah analisis yang dilakukan terhadap laporan keuangan perusahaan untuk melihat sejauh mana perusahaan telah berhasil menggunakan sumber daya keuangan yang dimiliki perusahaan secara efektif untuk menambah kekayaan perusahaan dan pemegang saham dengan menggunakan aturan-aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.

Economic Value Added adalah estimasi nilai laba ekonomi suatu perusahaan dalam suatu periode akuntansi, yang dapat menjadi alat untuk mengukur apakah dalam periode akuntansi tersebut perusahaan telah berhasil menambah, mempertahankan atau malah mengurangi nilai investasi pemegang saham.
Market Value Added adalah perbedaan antara nilai pasar perusahaan dengan nilai modal yang diinvestasikan pemegang saham.

Skala Pengukuran
Dalam penelitian ini, skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio. Skala rasio adalah skala di mana angka mempunyai makna yang sesungguhnya, sehingga angka nol dalam skala ini diperlakukan sebagai dasar perhitungan dan pengukuran objek penelitian (Efferin et al, 2004:87).

Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang bersifat kuantitatif. Menurut Efferin et al (2004:14), data sekunder adalah data yang tersedia pada pihak ketiga, misalnya perpustakaan maupun lembaga lain yang bukan sebagai objek penelitian itu sendiri. Menurut Kuncoro (2009:145), data kuantitatif adalah data yang diukur dalam suatu skala numerik (angka).
Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data gambaran umum, data keuangan perusahaan dan data lain. Data keuangan perusahaan berupa laporan keuangan perusahaan, meliputi laporan posisi keuangan perusahaan, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas.
Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi. Efferin et al (2004:101) mengatakan bahwa dokumentasi adalah salah satu metode pengumpulan data dengan cara melakukan analisis terhadap semua catatan dan dokumen yang dimiliki oleh organisasi yang terpilih sebagai objek penelitian, atau data dari individu sebagai objek penelitian.

Teknik Analisis
Pengolahan data dilakukan setelah data lengkap terkumpul. Metode analisis data yang digunakan peneliti untuk menganalisis data yang telah dikumpulkan adalah metode analisis deskriptif. Efferin et al (2004:9) mengatakan bahwa penelitian deskriptif (descriptive research) bertujuan memberikan gambaran tentang detail-detail sebuah situasi, lingkungan sosial, atau hubungan.
Sugiyono (2007) dalam Lubis (2012:20) mengatakan bahwa penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih (independen) tanpa membuat perbandingan atau menghubungkannya dengan variabel lain.

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan perangkat Microsoft Excel 2016. Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA).

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Gambaran Umum Perusahaan
Identitas Perusahaan:
Nama Perusahaan: PT Semen Baturaja (Persero) Tbk
Alamat Kantor: Jl. Abikusno Cokrosuyoso Kertapati Palembang – 30258
Tanggal Pendirian: 14 November 1974
Bidang Usaha: Bidang persemenan dan industri kimia lainnya.

Jumlah Pabrik dan Kantor Perwakilan:
3 (tiga) pabrik dan 1 (satu) kantor perwakilan di Jakarta
Jumlah Karyawan:775 Karyawan
Modal Dasar:Berdasarkan Anggaran Dasar terakhir, modal dasar
Perusahaan sebesar Rp3.000.000.000.000
Kode Saham:SMBR
Kepemilikan Saham:
Tahun 1974: 55% PT Semen Padang, 45% PT Semen Gresik, Tahun 1979: 88% Pemerintah Republik Indonesia, 7% PT Semen Padang, 5% PT Semen Gresik, Tahun 1991: 100% Pemerintah Republik Indonesia, Tahun 2016: 76.24% Pemerintah Republik Indonesia dan 23.76% Masyarakat, Tahun 2017: 75,57% Pemerintah Republik Indonesia dan 24,43% Masyarakat
Riwayat Singkat Perseroan:
Lini bisnis yang dijalankan Perseroan bermula dengan produksi terak dan semen. Produksi terak dijalankan dengan pusat produksi terletak di Baturaja, Sumatera Selatan, sementara lokasi penggilingan dan pengantongan semen dilaksanakan di Pabrik Baturaja, Pabrik Palembang dan Pabrik Panjang. Bahan baku produk semen Perseroan berupa batu kapur dan tanahliat yang didapatkan dari lokasi pertambangan batukapur dan tanah liat milik Perseroan yang berlokasi sekitar 1,2 km dari pabrik di Baturaja.

Untuk mendukung level produksi tinggi dan optimal, Perseroan berinvestasi pada peralatan yang ditargetkan untuk mencapai kapasitas 500.000 ton semen pertahun. Tak berhenti di situ, Perseroan melancarkan Proyek Optimalisasi I (OPT I) pada tahun 1992 untuk meningkatkan kapasitas terpasang. Dengan berjalannya proyek tersebut, kapasitas terpasang dapat ditingkatkan menjadi 550.000 ton semen per tahun dan Perseroan berhasil menyelesaikan pembangunan dalam waktu dua tahun. Berhasilnya OPT I memberikan banyak kemajuan dan masukan untuk eskalasi bisnis Perseroan. Untuk itu, pada tahun 1996, Perseroan melaksanakan proyek lanjutan Optimalisasi II (OPT II) dengan target peningkatan kapasitas 1.250.000 ton semen per tahun. OPT II berhasil diselesaikan pada tahun 2001 dan terusaktif berproduksi hingga saat ini.

Pengembangan usaha Perseroan terus dilancarkan dengan diterbitkannya obligasi I senilai Rp200 miliar. Kewajiban melunasi pinjaman untuk pelaksanaan obligasi ini berhasil dilunasi pada bulan Juni 2010. Emisi obligasi ini berhasil menjadi batu loncatan restrukturisasi keuangan secara keseluruhan sehingga Perseroan dapat meningkatkan profitabilitas dan likuiditasnya. Sejalan dengan optimalnya kapasitas produksi dan kuatnya struktur modal yang telah teruji, Perseroan meraih kepercayaan untuk menggarap proyek-proyek besar dan prestisius. Dengan kapasitas yang telah mencapai 2.000.000 ton per tahun, Perseroan berhasil menuntaskan proyek Cement Mill dan Packer dengan kapasitas 750.000 ton per tahun pada 2011 dan beroperasi secara komersil pada Juli 2013.

Pada 28 Juni 2013, Perseroan secara resmi menjadi Perusahaan terbuka dengan melaksanakan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) dan berubah nama menjadi PT Semen Baturaja (Persero) Tbk. Sebesar 23,76% atau sebesar 2.337.678.500 saham diperdagangkan di pasar modal dengan kode saham SMBR. Realisasi penggunaan dana hasil penawaran umum ini kemudian dimanfaatkan untuk membangun pabrik Baturaja II yang ditargetkan dapat mencapai kapasitas 1,85 juta ton semen tiap tahunnya.
Pembangunan Pabrik Baturaja II dimulai pada tahun 2015 dan mulai berproduksi secara komersil pada tanggal 1 September 2017, dengan demikian total kapasitas produksi semen baturaja menjadi sebesar 3.850.000 ton semen per tahun. Pembangunan Pabrik Baturaja II memakan waktu selama 26 bulan, yang merupakan pabrik semen dengan masa pengerjaan paling cepat di Indonesia.

Perseroan terus berupaya meningkatkan kapasitas serta jaringan distribusinya demi menjangkau pasar yang lebih luas. Saat ini, pasar utama Perseroan adalah wilayah Sumatera Selatan, Lampung dan wilayah Indonesia lainnya yang prospektif untuk pengembangan infrastruktur. Perseroan pun terus menjaga tekad yang baik untuk memberikan manfaat luas kepada seluruh pemangku kepentingan. Kontribusi kepada Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah diwujudkan dalam bentuk pajak dan retribusi. Sementara untuk pemegang saham, Perseroan berkontribusi dalam bentuk pembagian dividen yang menguntungkan. Dan bagi masyarakat luas, Perseroan membuka lapangan pekerjaan dengan penyerapan tenaga kerja lokal, kemitraan dan bina lingkungan yang menjanjikan bagi masyarakat sekitar pabrik.

Visi Perusahaan:
“PT Semen Baturaja (Persero) Tbk menjadi produsen semen yang efisien, mempunyai daya saing dan tumbuh.”
Misi Perusahaan:
Memproduksi semen yang berkualitas, efisien dan memasarkannya dengan mengutamakan kepuasan pelanggan serta berwawasan lingkungan.

Membangun Sumber Daya Manusia yang profesional.

Memaksimalkan nilai tambah Perusahaan bagi Stakeholder.

Statistik Deskriptif
Kinerja keuangan suatu perusahaan dapat dihitung menggunakan beberapa alat, diantaranya adalah Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA). EVA mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan memperhitungkan biaya modal.
377190354330EVA = NOPAT – Biaya modal
EVA = NOPAT – Modal yang diinvestasikan X Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC)`
00EVA = NOPAT – Biaya modal
EVA = NOPAT – Modal yang diinvestasikan X Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC)`
EVA dapat dihitung dengan menggunakan rumus:
dimana:
NOPAT = Net Operationg Profit After Tax
WACC = Weight Average Cost of Capital
Berikut langkah untuk menghitung EVA PT Semen Baturaja Tbk dari tahun 2013 sampai 2017.

Langkah a : Menghitung Weight Average Cost of Capital (WACC)
381000692785WACC=LiabilitasLiabilitas dan Ekuitas X Beban bungaLiablitas X 1-Tarif pajak+EkuitasLiabilitas dan EkuitasX Laba setelah pajakEkuitas0WACC=LiabilitasLiabilitas dan Ekuitas X Beban bungaLiablitas X 1-Tarif pajak+EkuitasLiabilitas dan EkuitasX Laba setelah pajakEkuitasRumus untuk menghitung Weight Average Cost of Capital (WACC) adalah sebagai berikut:
Langkah b: Menghitung Biaya Modal
377190246380Biaya modal = Modal yang diinvestasikan X Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC)
0Biaya modal = Modal yang diinvestasikan X Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC)
Rumus untuk menghitung biaya modal adalah sebagai berikut:
377190833120Modal yang diinvestasikan = Liabilitas dan Ekuitas – Liabilitas Lancar
00Modal yang diinvestasikan = Liabilitas dan Ekuitas – Liabilitas Lancar

Langkah c: Menghitung Menghitung NOPAT
377190289560NOPAT = Laba usaha X (1-Tarif pajak)
00NOPAT = Laba usaha X (1-Tarif pajak)
Rumus untuk menghitung NOPAT adalah sebagai berikut:
Berikut adalah perhitungan EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk periode 2013-2017.

Tabel 4.1
Perhitungan EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017
2017 2016 2015 2014 2013
Liabilitas lancar 668.827.967 292.237.689 255.994.894 179.749.240 193.631.286
Liabilitas tidak lancar 978.649.421 955.881.605 63.320.455 29.364.506 50.828.295
Jumlah liabilitas 1.647.477.388 1.248.119.294 319.315.349 209.113.746 244.459.581
Jumlah ekuitas 3.412.859.859 3.120.757.702 2.949.352.584 2.717.247.111 2.466.956.754
Jumlah liabilitas dan ekuitas 5.060.337.247 4.368.876.996 3.268.667.933 2.926.360.857 2.711.416.335
Laba sebelum pajak penghasilan 208.947.154 349.280.550 443.414.252 394.651.537 400.401.904
Beban pajak penghasilan 62.298.722 90.190.025 89.234.190 66.315.221 88.218.068
Laba tahun berjalan dari operasi yang dilanjutkan 146.648.432 259.090.525 354.180.062 328.336.316 312.183.836
Laba komprehensif tahun berjalan 134.717.866 274.086.427 348.344.846 328.336.316 312.183.836
Biaya liabilitas 340.866 523.413 150.924 156.791 64.370
           
D (Total liabilitas/Total liabilitas dan ekuitas)*100% 32,557% 28,568% 9,769% 7,146% 9,016%
rd (Beban bunga/Total liabilitas)*100% 0,021% 0,042% 0,047% 0,075% 0,026%
Tarif pajak (Beban pajak penghasilan / Laba sebelum pajak penghasilan)*100% 29,816% 25,822% 20,124% 16,803% 22,032%
1-Tarif pajak 70,184% 74,178% 79,876% 83,197% 77,968%
E (Total ekuitas/Total liabilitas dan ekuitas)*100% 67,443% 71,432% 90,231% 92,854% 90,984%
re (Total laba setelah pajak/Total ekuitas)*100% 4,297% 8,302% 12,009% 12,083% 12,655%
(dalam ribu rupiah)
Tabel 4.1
Perhitungan EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017
(dalam ribuan rupiah)
2017 2016 2015 2014 2013
Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC) 0,029 0,059 0,108 0,112 0,115
(D*rd)(1-Tarif pajak) 0,000047 0,000089 0,000037 0,000045 0,000019
+ (E*re) 0,029 0,059 0,108 0,112 0,115
Modal yang diinvestasikan (Jumlah liabilitas dan ekuitas – Liabilitas lancar) 4.391.509.280 4.076.639.307 3.012.673.039 2.746.611.617 2.517.785.049
Biaya Modal (Modal yang diinvestasikan * Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC)) 127.473.431 242.122.040 326.552.568 308.290.968 289.936.350
NOPAT (Laba komprehensif tahun berjalan (1-Tarif Pajak)) 94.551.007 203.312.770 278.242.746 273.164.365 243.402.308
EVA (NOPAT – Biaya Modal) (32.922.424) (38.809.270) (48.309.821) (35.126.603) (46.534.043)
EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk pada tahun 2013 adalah sebesar -46.534.043 ribu rupiah. Pada tahun 2014, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk naik menjadi -35.126.603 ribu rupiah. Pada tahun 2015, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami penurunan menjadi -48.309.821 ribu rupiah. Tahun 2016, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk juga mengalami kenaikan menjadi -38.809.270 ribu rupiah. Pada tahun 2017, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk juga terus mengalami kenaikan menjadi -32.922.424 ribu rupiah.
Berdasarkan perhitungan pada Tabel 4.1, Economic Value Added (EVA) PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami kenaikan pada tahun 2014, sempat turun pada tahun 2015, namun terus naik pada tahun 2016 dan 2017. Artinya kinerja keuangan perusahaan menjadi lebih baik pada tahun 2014, 2016 dan 2017 namun kinerja keuangan perusahaan memburuk pada periode 2015. EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk bernilai negatif pada semua periode, artinya perusahaan telah melakukan lebih buruk daripada yang diharapkan penyandang dana (kreditor dan investor) serta tidak mampu memberi pengembalian yang sepadan kepada pemegang saham dalam tahun tertentu.

Alat lain yang dapat digunakan dalam perhitungan kinerja keuangan perusahaan adalah Market Value Added (MVA). MVA mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan menghitung perbedaan nilai pasar ekuitas suatu perusahaan dengan nilai buku yang disajikan dalam neraca.
Berikut adalah perhitungan MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk periode 2013-2017.

Tabel 4.2
Perhitungan MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017
(dalam ribu rupiah)
2017 2016 2015 2014 2013
Liabilitas lancar 668.827.967 292.237.689 255.994.894 179.749.240 193.631.286
Jumlah liabilitas dan ekuitas 5.060.337.247 4.368.876.996 3.268.667.933 2.926.360.857 2.711.416.335
Jumlah saham beredar 9.837.678.500 9.837.678.500 9.837.678.500 9.837.678.500 9.837.678.500
Harga saham 3.800 2.790 291 381 330
Modal yang diinvestasikan (Jumlah liabilitas dan ekuitas – Liabilitas lancar) 4.391.509.280 4.076.639.307 3.012.673.039 2.746.611.617 2.517.785.049
Nilai pasar perusahaan (Jumlah saham beredar * Harga saham) 37.383.178.300.000 27.447.123.015.000 2.862.764.443.500 3.748.155.508.500 3.246.433.905.000
MVA (Nilai pasar perusahaan – Modal yang diinvestasikan) 37.378.786.790.720 27.443.046.375.693 2.859.751.770.461 3.745.408.896.883 3.243.916.119.951
MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk pada tahun 2013 adalah sebesar 3.243.916.119.951 ribu rupiah. Pada tahun 2014, MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk naik menjadi 3.745.408.896.883 ribu rupiah. Pada tahun 2015, MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami penurunan menjadi 2.859.751.770.461 ribu rupiah. Tahun 2016, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk juga mengalami kenaikan menjadi 27.443.046.375.693 ribu rupiah. Pada tahun 2017, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk juga terus mengalami kenaikan menjadi 37.378.786.790.720 ribu rupiah.
Berdasarkan perhitungan pada Tabel 4.2, Market Value Added (MVA) PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami kenaikan pada tahun 2014, sempat turun pada tahun 2015, namun terus naik pada tahun 2016 dan 2017. Artinya kinerja keuangan perusahaan menjadi lebih baik pada tahun 2014, 2016 dan 2017 namun kinerja keuangan perusahaan memburuk pada periode 2015. MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk bernilai positif pada semua periode, artinya perusahaan telah meningkatkan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham.

Pembahasan Hasil Penelitian
Berikut adalah hasil penelitian dari perhitungan EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017

Tabel 4.1
Perhitungan EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017
(dalam ribu rupiah)
2017 2016 2015 2014 2013
Liabilitas lancar 668.827.967 292.237.689 255.994.894 179.749.240 193.631.286
Liabilitas tidak lancar 978.649.421 955.881.605 63.320.455 29.364.506 50.828.295
Jumlah liabilitas 1.647.477.388 1.248.119.294 319.315.349 209.113.746 244.459.581
Jumlah ekuitas 3.412.859.859 3.120.757.702 2.949.352.584 2.717.247.111 2.466.956.754
Jumlah liabilitas dan ekuitas 5.060.337.247 4.368.876.996 3.268.667.933 2.926.360.857 2.711.416.335
Laba sebelum pajak penghasilan 208.947.154 349.280.550 443.414.252 394.651.537 400.401.904
Beban pajak penghasilan 62.298.722 90.190.025 89.234.190 66.315.221 88.218.068
Laba tahun berjalan dari operasi yang dilanjutkan 146.648.432 259.090.525 354.180.062 328.336.316 312.183.836
Laba komprehensif tahun berjalan 134.717.866 274.086.427 348.344.846 328.336.316 312.183.836
Biaya liabilitas 340.866 523.413 150.924 156.791 64.370
           
D (Total liabilitas/Total liabilitas dan ekuitas)*100% 32,557% 28,568% 9,769% 7,146% 9,016%
rd (Beban bunga/Total liabilitas)*100% 0,021% 0,042% 0,047% 0,075% 0,026%
Tarif pajak (Beban pajak penghasilan / Laba sebelum pajak penghasilan)*100% 29,816% 25,822% 20,124% 16,803% 22,032%
1-Tarif pajak 70,184% 74,178% 79,876% 83,197% 77,968%
E (Total ekuitas/Total liabilitas dan ekuitas)*100% 67,443% 71,432% 90,231% 92,854% 90,984%
re (Total laba setelah pajak/Total ekuitas)*100% 4,297% 8,302% 12,009% 12,083% 12,655%
Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC) 0,029 0,059 0,108 0,112 0,115
(D*rd)(1-Tarif pajak) 0,000047 0,000089 0,000037 0,000045 0,000019
+ (E*re) 0,029 0,059 0,108 0,112 0,115
Modal yang diinvestasikan (Jumlah liabilitas dan ekuitas – Liabilitas lancar) 4.391.509.280 4.076.639.307 3.012.673.039 2.746.611.617 2.517.785.049
Tabel 4.1
Perhitungan EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017
(dalam ribu rupiah)
2017 2016 2015 2014 2013
Biaya Modal (Modal yang diinvestasikan * Rata-rata tertimbang biaya modal (WACC)) 127.473.431 242.122.040 326.552.568 308.290.968 289.936.350
NOPAT (Laba komprehensif tahun berjalan (1-Tarif Pajak)) 94.551.007 203.312.770 278.242.746 273.164.365 243.402.308
EVA (NOPAT – Biaya Modal) (32.922.424) (38.809.270) (48.309.821) (35.126.603) (46.534.043)

Gambar 4.1
Grafik EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017
(dalam ribu rupiah)
EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk pada tahun 2013 adalah sebesar -46.534.043 ribu rupiah. Pada tahun 2014, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk naik menjadi -35.126.603 ribu rupiah. Pada tahun 2015, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami penurunan menjadi -48.309.821 ribu rupiah. Tahun 2016, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk juga mengalami kenaikan menjadi -38.809.270 ribu rupiah. Pada tahun 2017, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk juga terus mengalami kenaikan menjadi -32.922.424 ribu rupiah.
Berdasarkan perhitungan pada Tabel 4.1, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami kenaikan pada tahun 2014, dari -46.534.043 ribu rupiah menjadi -35.126.603 ribu rupiah. Nilai EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk bernilai negatif, artinya perusahaan telah melakukan lebih buruk daripada yang diharapkan penyandang dana (kreditor dan investor) serta tidak mampu memberi pengembalian yang sepadan kepada pemegang saham pada tahun tersebut. Kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2014 sudah menjadi lebih baik karena adanya kenaikan nilai EVA dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami penurunan pada tahun 2015, dari -35.126.603 ribu rupiah menjadi -48.309.821 ribu rupiah. Nilai EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk bernilai negatif, artinya perusahaan telah melakukan lebih buruk daripada yang diharapkan penyandang dana (kreditor dan investor) serta tidak mampu memberi pengembalian yang sepadan kepada pemegang saham pada tahun tersebut. Kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2015 lebih buruk karena adanya penurunan nilai EVA dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami penurunan pada tahun 2016, dari -48.309.821 ribu rupiah menjadi -38.809.270 ribu rupiah. Nilai EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk bernilai negatif, artinya perusahaan telah melakukan lebih buruk daripada yang diharapkan penyandang dana (kreditor dan investor) serta tidak mampu memberi pengembalian yang sepadan kepada pemegang saham pada tahun tersebut. Kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2016 sudah menjadi lebih baik karena adanya kenaikan nilai EVA dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami penurunan pada tahun 2016, dari -38.809.270 ribu rupiah menjadi -32.922.424 ribu rupiah. Nilai EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk bernilai negatif, artinya perusahaan telah melakukan lebih buruk daripada yang diharapkan penyandang dana (kreditor dan investor) serta tidak mampu memberi pengembalian yang sepadan kepada pemegang saham pada tahun tersebut. Kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2017 sudah menjadi lebih baik karena adanya kenaikan nilai EVA dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk yang menurun pada tahun 2015 disebabkan oleh naiknya WACC pada tahun tersebut. Dalam laporan tahunan perusahaan disebutkan bahwa pada perekonomian nasional sepanjang tahun 2015 mempengaruhi usaha perusahaan terutama sektor properti dan infrastruktur, makro ekonomi seperti tingkat inflasi, suku bunga kredit bank, dan nilai tukar Rupiah. Selain itu, di tengah perlambatan ekonomi nasional yang terjadi, tingkat suku bunga Bank Indonesia yang tinggi turut mempengaruhi penundaan pembangunan proyek properti dan infrastruktur dari sektor swasta dan pelemahan daya beli masyarakat. Meningkatnya kompetisi dengan masukan pemain baru dalam pasar juga turut mempengaruhi perusahaan.

Pada tahun 2015, NOPAT dan biaya modal perusahaan sama-sama mengalami peningkatan, namun peningkatan biaya modal pada tahun 2015 dari 308.290.968 ribu rupiah menjadi 326.552.568 ribu rupiah (naik sebesar 5,9%) lebih besar dibandingkan kenaikan NOPAT sebesar 1,9% dari 273.164.365 ribu rupiah menjadi 278.242.746 ribu rupiah. Naiknya suku bunga kredit bank menyebabkan naiknya biaya modal, yang menyebabkan EVA perusahaan mengalami penurunan pada tahun 2015.

Beberapa solusi yang dapat dilakukan untuk mencapai nilai EVA positif. Yang pertama, perusahaan dapat menaikkan NOPAT dengan menaikkan penjualan dan laba perusahaan. Kedua, perusahaan dapat lebih mempergunakan modal saham yang diinvestasikan daripada liabilitas, untuk menurunkan biaya bunga yang harus ditanggung perusahaan. Naiknya biaya bunga akan menaikkan WACC, sehingga EVA perusahaan akan menjadi lebih rendah.

Berikut adalah hasil penelitian dari perhitungan MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017.

Tabel 4.2
Perhitungan MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017
2017 2016 2015 2014 2013
Liabilitas lancar 668.827.967 292.237.689 255.994.894 179.749.240 193.631.286
Jumlah liabilitas dan ekuitas 5.060.337.247 4.368.876.996 3.268.667.933 2.926.360.857 2.711.416.335
Jumlah saham beredar 9.837.678.500 9.837.678.500 9.837.678.500 9.837.678.500 9.837.678.500
Harga saham 3.800 2.790 291 381 330
(dalam ribu rupiah)

Tabel 4.2
Perhitungan MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017
(dalam ribuan rupiah)
Modal yang diinvestasikan (Jumlah liabilitas dan ekuitas – Liabilitas lancar) 4.391.509.280 4.076.639.307 3.012.673.039 2.746.611.617 2.517.785.049
Nilai pasar perusahaan (Jumlah saham beredar * Harga saham) 37.383.178.300.000 27.447.123.015.000 2.862.764.443.500 3.748.155.508.500 3.246.433.905.000
MVA (Nilai pasar perusahaan – Modal yang diinvestasikan) 37.378.786.790.720 27.443.046.375.693 2.859.751.770.461 3.745.408.896.883 3.243.916.119.951

Gambar 4.2
Grafik MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013-2017
(dalam ribu rupiah)
MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk pada tahun 2013 adalah sebesar 3.243.916.119.951 ribu rupiah. Pada tahun 2014, MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk naik menjadi 3.745.408.896.883 ribu rupiah. Pada tahun 2015, MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami penurunan menjadi 2.859.751.770.461 ribu rupiah. Tahun 2016, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk juga mengalami kenaikan menjadi 27.443.046.375.693 ribu rupiah. Pada tahun 2017, EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk juga terus mengalami kenaikan menjadi 37.378.786.790.720 ribu rupiah.
Berdasarkan perhitungan pada Tabel 4.2, Market Value Added (MVA) PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami kenaikan pada tahun 2014, dari 3.243.916.119.951 ribu rupiah menjadi 3.745.408.896.883 ribu rupiah. MVA bernilai positif artinya perusahaan telah meningkatkan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham. MVA mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang berarti kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2014 adalah lebih baik dibandingkan dengan tahun 2013.

Market Value Added (MVA) PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami penurunan pada tahun 2015, dari 3.745.408.896.883 ribu rupiah menjadi 2.859.751.770.461 ribu rupiah. MVA bernilai positif artinya perusahaan telah meningkatkan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham. MVA mengalami penurunan dari tahun sebelumnya yang berarti kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2015 adalah lebih buruk dibandingkan dengan tahun 2014.

Market Value Added (MVA) PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami kenaikan pada tahun 2016, dari 2.859.751.770.461 ribu rupiah menjadi 27.443.046.375.693 ribu rupiah. MVA bernilai positif artinya perusahaan telah meningkatkan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham. MVA mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang berarti kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2016 adalah lebih baik dibandingkan dengan tahun 2017.

Market Value Added (MVA) PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami kenaikan pada tahun 2017, dari 27.443.046.375.693 ribu rupiah menjadi 37.378.786.790.720 ribu rupiah. MVA bernilai positif artinya perusahaan telah meningkatkan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham. MVA mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yang berarti kinerja keuangan perusahaan pada tahun 2017 adalah lebih baik dibandingkan dengan tahun 2016.
MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk bernilai positif pada semua periode, artinya perusahaan telah meningkatkan nilai perusahaan dan kekayaan pemegang saham. Turunnya MVA perusahaan pada tahun 2015 disebabkan oleh turunnya harga saham perusahaan dari Rp 381/lembar saham menjadi Rp 291/lembar saham. Hal tersebut menyebabkan nilai perusahaan menjadi turun kan MVA juga menjadi lebih rendah dibandingkan dengan tahun sebelumnya.

Dari hasil penelitian dapat terlihat bahwa kinerja keuangan PT Semen Baturaja (Persero) Tbk terus meningkat dari tahun ke tahun, meskipun sempat mengalami penurunan pada tahun 2015. Dengan asumsi bahwa tidak terjadi kejadian luar biasa pada perekonomian nasional dan operasional perusahaan, EVA PT Semen Baturaja akan terus meningkat dan naik ke titik nol dan kinerja keuangan perusahaan menjadi lebih baik lagi di tahun berikutnya.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan perhitungan EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk dari tahun 2013 sampai 2017, perusahaan belum dapat menciptakan nilai EVA yang positif, sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan belum mampu menciptakan nilai tambah kekayaan bagi perusahaan dalam periode tersebut, atau dengan kata lain perusahaan telah melakukan lebih buruk daripada yang diharapkan penyandang dana (kreditor dan investor) serta tidak mampu memberi pengembalian yang sepadan kepada pemegang saham. EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk mengalami penurunan pada tahun 2015, disebabkan oleh naiknya biaya bunga yang menyebabkan naiknya liabilitas dan WACC. Namun pada tahun 2014, 2016 dan 2017, nilai EVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk terus mengalami kenaikan, menunjukkan bahwa kinerja keuangan perusahaan terus menjadi lebih baik, meskipun nilai EVA masih bernilai negatif.

Berdasarkan hasil analisis MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk pada tahun 2013-2017, perusahaan telah mampu menciptakan nilai MVA positif, sehingga dapat disimpulkan bahwa perusahaan telah mampu menciptakan nilai tambah kekayaan bagi perusahaan karena nilai pasar perusahaan lebih besar daripada modal yang diinvestasikan. Nilai MVA juga meningkat pada tahun 2014. 2016 dan 2017, berarti kinerja keuangan perusahaan menjadi lebih baik dalam periode tersebut. MVA PT Semen Baturaja (Persero) Tbk sempat mengalami penurunan pada tahun 2015 karena turunnya harga penutupan saham perusahaan pada periode tersebut.

Saran
PT Semen Baturaja (Persero) Tbk sebaiknya menerapkan analisis EVA dan MVA agar dapat mengetahui kinerja keuangan perusahaan dengan lebih tepat dan akurat, agar perusahaan dapat mengambil solusi dan keputusan dan kebijakan perusahaan yang lebih tepat untuk menjadi solusi bagi permasalahan yang akan dihadapi kedepannya.

PT Semen Baturaja (Persero) Tbk sebaiknya lebih efisien dalam menggunakan modal yang diinvestasikan agar dapat menekan biaya bunga, agar dapat membuat nilai EVA menjadi lebih positif.

DAFTAR PUSTAKA
Akerlof, George A, 1970. “The Market for Lemons: Quality Uncertainty and TheMarket Mechanism”, The Quarterly Journal of Economics, Volume 84 Nomor 3, hal 448-500. Cambridge.

Atmadja, Adwin S, 1999. “Inflasi di Indonesia: Sumber-sumber Penyebab dan Pengendaliannya”, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Volume 1 Nomor 1, hal 54-67. Surabaya.

Brigham, Eugene F. dan Joel F. Houston, 2010. Dasar-dasar Manajemen Keuangan, Edisi Kesebelas, Salemba Empat, Jakarta.

Efferin, Sujoko, Stevanus Hadi Darmadji dan Yuliawati Tan, 2004. Metode Penelitian untuk Akuntansi: Sebuah Pendekatan Praktis, Bayumedia, Malang.

Fahmi, Irham, 2011. Analisis Laporan Keuangan, Alfabeta, Bandung.

Ginanjar, Gigin dan Arlin Ferlina, 2015. “Analisis Kinerja Keuangan dengan Menggunakan Metode Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA): Studi pada Perusahaan Rokok yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) Periode 2009-2013”, e-Proceeding of Management, Volume 2 Nomor 2 hal 1886-1893. Bandung.

Harahap, Sofyan Syafri, 2012. Teori Akuntansi, Edisi Revisi 2011, Rajawali Pers, Jakarta.

Haryaning, Maulisa Dwi, 2010. “Analisis Kinerja Keuangan Dengan Metode Economic Value Added (EVA) pada PT Unitex Tbk, Bogor”. Skripsi. Bogor. Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.

Idhayajothi, R., O.T.V. Latasri, N. Manjula, A. Meharaj Banu dan R. Malini, 2014. “A Study on Financial Performance of Ashok Leyland Limited ai Chennai”, IOSR Journal of Business and Management, Volume 16 Nomor 6, hal 83-89. Tamil Nadu.

Lubis, Ade Fatma, 2012. Metode Penelitian Akuntansi dan Format Penulisan Tesis, USU Press, Medan.

Kaunang, Swita Angelina, 2013. “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan pada PT Cipta Daya Nusantara Manado”, Jurnal EMBA, Volume 1 Nomor 4, hal 1993-2003. Manado.

Kasmir, 2008. Analisis Laporan Keuangan, Edisi Ketiga, Raja Grafindo Persada, Jakarta. 
Kuncoro, Mudrajad, 2009. Metode Riset untuk Bisnis dan Ekonomi, Edisi Ketiga, Erlangga, Jakarta.

Munawir, Slamet, 2007. Analisa Laporan Keuangan, Edisi Keempatbelas, Liberty, Yogyakarta.
Ross, Stephen A., 1977. “The Determination of Financial Structure: The Incentive-Signalling Approach”, The Bell Journal of Economics, Volume 8 Nomor 1, hal 23-40. Santa Monica.

Rudianto, 2006. Akuntansi Manajemen, PT Grasindo, Jakarta.

Sahara, Bachrul Hilal, Sri Mangesti Rahayu dan Zahror Z.A., 2015. “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Menggunakan Rasio Keuangan dan Metode Economic Value Added (EVA) (Studi pada PT Semen Indonesia (Persero) Tbk periode 2011-2013)”, Jurnal Administrasi Bisnis (JAB), Volume 2 Nomor 1, hal 1-8. Malang.

Schroeder, Richard G., Myrtle W. Clark dan Jack M. Cathey, 2009. Financial Accounting Theory and Analysis: Text and Cases 9th Edition, Wiley, Amerika Serikat.

Sichigea, Nicolae dan Laura Vasilescu, 2015.”Economic Value Added and Market Value Added-Modern Indicators for Assessment the Firm’s Value”, Economy Series Special Issue ECO-TREND 2015,hal 488-493. Craiova.

Spence, Michael, 1973. “Job Market Signaling”, The Quarterly Journal of Economics, Volume 87 Nomor 3, hal 355-374, Cambridge.

Sugiyono, 1999. Metode Penelitian Bisnis, CV Alfabeta, Bandung.

Sugiyono, 2007. Statistik untuk Penelitian, CV Alfabeta, Bandung.

Subramanyam, K.R. dan John J. Wild, 2014. Analisis Laporan Keuangan Buku Satu, Salemba Empat, Jakarta.

Tamba, Annisa, 2012. “Analisis Kinerja Keuangan dengan Menggunakan Pendekatan EVA (Economic Value Added) dan MVA (Market Value Added) pada Bank BUMN yang Go Public) (Studi Kasus pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank BNI (Persero) Tbk dan PT Bank BRI (Persero) Tbk)”. Skripsi. Makassar. Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Hasanuddin.

Tampubolon, Manahan P., 2013.Manajemen Keuangan (Finance Management), Mitra Wacana Media, Jakarta.

Wahyudi, Muhammad Fajar, 2009. “Analisis Kinerja Keuangan Perusahaan dengan Menggunakan Pendekatan Economic Value Added (EVA) dan Market Value Added (MVA) Periode Tahun 2005-2007 (Studi pada PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk.)”. Skripsi. Malang. Fakultas Ekonomi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

Young, David dan Stephen F. O’Byrne, 2001. EVA dan Manajemen Berdasarkan Nilai Panduan Praktis untuk Implementasi, Salemba Empat, Jakarta.

Lembaga
Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara, 2017. Buku Pedoman Penulisan Skripsi dan Ujian Komprehensif Program Strata Satu (S1), Medan.

Ikatan Akuntansi Indonesia, 2009. Standar Akuntansi Keuangan, PSAK No.1: Penyajan Laporan Keuangan, Salemba Empat, Jakarta.

Situs Internet
Bursa Efek Indonesia. www.idx.co.id (Oktober 2017).

Lampiran 1
Laporan Keuangan PT Semen Baturaja (Psersero) Tbk yang yang Telah Diaudit Tahun 2013

Lampiran 2
Ikhtisar Saham PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2013

Lampiran 3
Laporan Keuangan PT Semen Baturaja (Psersero) Tbk yang yang Telah Diaudit Tahun 2014

Lampiran 4
Ikhtisar Saham PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2014

Lampiran 5
Laporan Keuangan PT Semen Baturaja (Psersero) Tbk yang yang Telah Diaudit Tahun 2015

Lampiran 6
Ikhtisar Saham PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2015

Lampiran 7
Laporan Keuangan PT Semen Baturaja (Psersero) Tbk yang yang Telah Diaudit Tahun 2016

Lampiran 8
Ikhtisar Saham PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2016

Lampiran 9
Laporan Keuangan PT Semen Baturaja (Psersero) Tbk yang yang Telah Diaudit Tahun 2017

Lampiran 10
Ikhtisar Saham PT Semen Baturaja (Persero) Tbk tahun 2017

x

Hi!
I'm Kyle!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out